WELCOME TO OUR KNOWLEDGE

Selamat Datang...
Koleksi makalah untuk temen-temen S1 Jurusan Tarbiyah beserta tulisan-tulisan menarik lain

Senin, 26 Oktober 2009

ILMU TAFSIR_TAFSIR OBJEK PENDIDIKAN

TAFSIR OBJEK PENDIDIKAN


MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
"Ilmu Tafsir"

Dosen Pembimbing : HM. Burhanuddin Ubaidillah, Lc, M. Ag










Oleh:
Wahyu Irvana
Umi Hanik
Zainal Abidin

SEMESTER: III-B




SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"
(STAIM)
FAKULTAS TARBIYAH, PRODI S-1 PAI
Nglawak-Kertosono
September, 2009
PENDAHULUAN


Al Qur’an, kitab umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya sekedar kumpulan lembaran-lembaran yang dibaca dan mendapatkan pahala dengan membacanya. Namun lebih dari itu, Al Qur’an merupakan mukjizat yang abadi sampai hari akhir nanti, bahkan Al qur’an memberikan hujjah dan sebagai penolong di hari perhitungan amal kelak. Di dalam Al Qur’an terdapat kandungan pengetahuan yang tiada tara. Baik yang tersurat ataupun yang masih tersirat.
Umtuk mengetahui makna-makna dan hikmah-hikmah yang terdapat dalam Al Qur’an, perlu adanya penafsiran-penafsiran tentang ayat-ayatnya, dan semua itu terdapat dalam ilmu tafsir. Di antara ilmu-ilmu qur’an, tafsir merupakan ilmu yang mencakup berbagai disiplin ilmu. Di dalamnya terhimpun tafsir dari sudut balaghoh, nahwu, shorof, asbab nuzul, munasabah, hadits, tarikh, dan lain sebagainya.
Dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an diperlukan adanya ilmu yang luas. Maka dalam makalah ini akan dicoba menguraikan tafsir tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan objek pedidikan, yakni QS. At Tahrim: 6, QS. Asy Syu’araa: 214, QS. At Taubah: 122, dan QS. An Nisaa’: 170.

TAFSIR OBJEK PENDIDIKAN


A. QS. At Tahrim Ayat 6




“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
 Dalam ayat ini terdapat lafadz perintah beruppa fi’il amr yang secara langsung dan tegas, yakni lafadz (peliharalah/ jagalah), hal ini dimaksudkan bahwa kewajiban setiap orang Mu’min salah satunya adalah menjaga dirinya sendiri dan keluarganya dari siksa neraka.
Dalam tafsir jalalain proses penjagaan tersebut adalah dengan pelaksanaan perintah taat kepada Allah SWT.
 Merupakan tanggung jawab setiap manusia untuk menjaga dirinya sendiri, serta keluarganya, sebab manusia merupakan pemimpin bagi dirinya sendiri dan keluarganya yang nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Sebagaimana sabda Rosuloulloh SAW.




“Dari Ibnu Umar ra. Berkata: saya mendengar Rosululloh SAW. Bersabda: setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap dari kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanyai atas kepemimpinannya, orang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanyai atas kepemimpinannya..... (HR. Bukhary-Muslim)
 Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6 ini turun, Umar berkata: "Wahai Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga kami?" Rasulullah SAW. menjawab: "Larang mereka mengerjakan apa yang kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang kasar dan keras yang pemimpinnya berjumlah sembilan belas malaikat, mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepadanya.
Maka jelas bahwa tugas manusia tidak hanya menjaga dirinya sendiri, namun juga keluarganya dari siksa neraka. Untuk dapat melaksanakan taat kepada Allah SWT, tentunya harus dengan menjalankan segala perintahNya, serta menjauhi segala laranganNya. Dan itu semua tak akan bisa terjadi tanpa adanya pendidikan syari’at. Maka disimpulkan bahwa keluarga juga merupakan objek pendidikan.
 Dilihat dari ayat itu sendiri terdapat hubungan antar kalimat (munasabah), bahwa manusia diharapkan seperti prilaku malaikat, yakni mengerjakan apa yang diperintah Allah SWT.
 Tafsiran: ayat ini menerangkan tentang ultimatum kepada kaum mu’minin (diri dan keluarganya) untuk tidak melakukan kemurtadan dengan lidahnya, meskipun hatinya tidak.

 Kesimpulan: ayat ini menunjukkan perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka, yang bisa disimpulkan juga merupakan untuk tarbiyah diri dan keluarga.

B. QS. Asy Syu’araa Ayat 214


“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Q.S Asy Syu'ara': 214).
 Sesuai dengan ayat sebelumnya (QS. At Tahrim: 6) bahwa terdapat perintah langsung dengan fi’il amar (berilah peringatan). Namun perbedaannya adalah tentang objeknya, dimana dalam ayat ini adalah kerabat-kerabat.
 ”Al Aqrobyn” mereka adalah Bani Hasyim dan Bani Mutalib, lalu Nabi saw. memberikan peringatan kepada mereka secara terang-terangan; demikianlah menurut keterangan hadis yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Namun hal ini bukan berarti khusus untuk Nabi SAW saja kepada Bani Hasyim dan Muthollib, tetapi juga untuk seluruh umat Islam. Sebab sesuai kaidah ushul fiqh:

”...dengan umumnya lafadz, bukan dengan khususnya sebab”
 Dilihat dari munasabah ayat, selanjutnya terdapat ayat ke-215

”Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (QS. Asy-Syu’araa: 215)
Jadi perintah ini juga berlaku untuk seluruh umat Islam.
 Asbab nuzul ayat ini, Ketika ayat ini turun Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Bani Abdul Muthalib, demi Allah aku tidak pernah menemukan sesuatu yang lebih baik di seluruh bangsa Arab dari apa yang kubawa untukmu. Aku datang kepadamu untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Allah telah menyuruhku mengajakmu kepada-Nya. Maka, siapakah di antara kamu yang bersedia membantuku dalam urusan ini untuk menjadi saudaraku dan washiku serta khalifahku?” Mereka semua tidak bersedia kecuali Ali bin Abi Thalib. Di antara hadirin beliaulah yang paling muda. Ali berdiri seraya berkata: “Aku ya, RasulullahNabi. Aku (bersedia menjadi) wazirmu dalam urusan ini”. Lalu Rasulullah SAW memegang bahu Ali seraya bersabda: “Sesungguhnya Ali ini adalah saudaraku dan washiku serta khalifahku terhadap kalian. Oleh karena itu, dengarkanlah dan taatilah ia.” Mereka tertawa terbahak-bahak sambil berkata kepada Abu Thalib: “Kamu disuruh mendengar dan mentaati anakmu”
 Umat Islam adalah saudara bagi yang lain, maka harus saling mendidik dan menasehati. Sebagaimana sabda Nabi SAW :


“ Dari Jarir Ibn Abdillah ra. Berkata: saya bersumpah setia kepada Rosululloh SAW untuk mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan menasehati kepada setiap muslim”. (HR. Bukhory-Muslim)
Maka kerabat-kerabat kita terdekat merupakan juga objek dakwah dan tarbiyah.

C. QS. At Taubah: 122



”Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah: 122)
 Dalam ayat ini juga terdapat dua lafadz fi’il amar yang disertai dengan lam amar, yakni (supaya mereka memperdalam ilmu agama) dan lafadz (supaya mereka membari peringatan),yang berarti kewajiban untuk belajar dan mengajar.
 Adapun proses belajar dan mengajar sangat dianjurkan oleh Nabi SAW. Sabda beliau:



”Dan darinya (Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda: barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala orang yang mengikutinya tidak dikurangi sedikitpun dari padanya. (HR. Muslim)
 Asbab nuzulnya adalah Tatkala kaum Mukminin dicela oleh Allah bila tidak ikut ke medan perang kemudian Nabi saw. mengirimkan sariyahnya, akhirnya mereka berangkat ke medan perang semua tanpa ada seorang pun yang tinggal, maka turunlah firman-Nya berikut ini: (Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi) ke medan perang (semuanya. Mengapa tidak) (pergi dari tiap-tiap golongan) suatu kabilah (di antara mereka beberapa orang) beberapa golongan saja kemudian sisanya tetap tinggal di tempat (untuk memperdalam pengetahuan mereka)
yakni tetap tinggal di tempat (mengenai agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya) dari medan perang, yaitu dengan mengajarkan kepada mereka hukum-hukum agama yang telah dipelajarinya (supaya mereka itu dapat menjaga dirinya) dari siksaan Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Abbas r.a. memberikan penakwilannya bahwa ayat ini penerapannya hanya khusus untuk sariyah-sariyah, yakni bilamana pasukan itu dalam bentuk sariyah lantaran Nabi saw. tidak ikut. Sedangkan ayat sebelumnya yang juga melarang seseorang tetap tinggal di tempatnya dan tidak ikut berangkat ke medan perang, maka hal ini pengertiannya tertuju kepada bila Nabi saw. berangkat ke suatu ghazwah.
 Kesimpulan: maka tidak sepatutnya seluruh kaum muslimin pergi berperang (jihad), namun harus ada juga yang harus belajar dan mengajar. Sebab proses tarbiyah sangat pentingbagi kukuhnya Islam. Rosul SAW bersabda (artinya): ”Di hari kiamat kelak tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang)” (HR. Syaikhani)
D. QS. An Nisaa’: 170



”Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan sedikitpun kepada Allah) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Qs. An Nisa’: 170)
 Dalam ayat ini Allah menyeru kepada manusia untuk beriman, sebab sudah ada Rosul (Nabi Muhammad SAW) yang diutus untuk membawa syari’at yang benar.
 Dalam tafsir disebutkan bahwa lafadz An Naas pada saat turunnya ayat adalah kepada ahli kafir Mekah.
 Adapun manusia, karena adanya kesamaan jenis, ukhuwah basyariyyah,maka dakwah dan tarbiyah kepada non muslim pun harus tetap dilakukan, tentunya dengan jalan yang baik.
 Nabi SAW bersabda:


”Dari Abdullah Ibn ’Amr Ibn Al Ash ra. Berkata, sesungguhnya Nabi SAW besabda: sampaikanlah dariku walau sat ayat.....” (HR. Bukhory)
 Kesimpulan: Maka manusia baik yang muslim maupun non muslim merupakan objek dakwah dan tarbiyah. Namun disini perlu diluruskan, bahwa proses dakwah dan tarbiyah tidak harus dengan kekerasan dan perang, tetapi dengan jalan yang hikmah, mauidzoh hasanah, dan argumen yang bertanggung jawab.

PENUTUP


KESIMPULAN
Pendidikan atau tarbiyah merupakan proses penting untuk melaksanakan taat kepada Allah SWT dan menggapai ridhonya, sebab belajar dan mengajar diwajibkan dalam Islam.
Manusia seluruhnya merupakan objek pendidikan (tarbiyah dan dakwah), namun perlu adanya prioritas untuk kedua hal tersebut, yaitu dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, kerabat, orang Islam, dan akhirnya kepada sesama manusia (non muslim)

DAFTAR PUSTAKA




1. Sayyid Ahmad Hasyimi. 1971. Mukhtarul Ahaditsun Nabawiyyah. Surabaya: Haromain.

2. Drs. Moh. Harisuddin Cholil, M. Ag. 2009. Ushul Fiqh I. Kertosono: STAI Mifathul 'Ula.

3. K. Ahmad Subhi Musyhadi. 1981. Misbahul Anam Syarh Bulughul Marom . Pekalongan: Maktabah Raja Murah

4. Al Allamah Abu Zakariya Al Anshory. Tanpa tahun. Riyadhus Sholihin. Surabaya: Haromain

5. Al Allamah Jalaluddin Al Mahally dan Al Allamah Jalaluddin As Suyuthi. Tanpa Tahun. Tafsir Jalalain. Surabaya: Darul Kutub Islamiyyah.

6. http://tafsirtematis.wordpress.com/kajian-lain/


7. http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?pageno=6&SuratKe=9#Top




Jumat, 28 Agustus 2009

El Fikr... Let's to the Light

Idealisme versus Pragmatisme
Untuk sosok Mahasiswa

Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya

Dengan kata lain bahwa pragmatisme adalah filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah yang bermanfaat dan berguna bagi manusia, so yang tidak berguna ditinggalkan.

Sedangkan Idealisme adalah suatu konsep yang diyakini oleh seseorang, yang mengatakan bahwa segala sesuatunya harus berjalan dengan ideal. Ideal di sini subjektif dipandang dari sisi orang yang bersangkutan. Baik, karena nilai Ideal di sini didasarkan pada subjektifitas maka Idealisme bisa dibedakan menjadi dua: yakni Idealisme Positif serta Idealisme Negatif. Meski begitu, pada umumnya yang dimaksudkan dengan Idealisme adalah Idealisme Positif.

Secara obyektif dibalik idealisme atas sosok mahasiswa, terdapat banyak hal yang masih jauh dari harapan. Ada kalanya mahasiswa dipuja sebagai pahlawan, tetapi di kala yang lain, mahasiswa dicela dan dinafikan. Dalam hal ini perlu dipahami, mahasiswa memang tidak bermakna tunggal, melainkan plural.

Secara ekstrim ada dua wajah berbeda. Ada sosok-sosok mahasiswa yang idealis, yang mencoba merealisasikan idealismenya itu ke konteks realitas. Lantas mahasiswa memainkan perannya yang nyata di tengah-tengah publik luas. Sosok-sosok mahasiswa seperti ini, tentu tergolong sebagai sosok-sosok yang dinanti-nantikan kehadirannya. Sebaliknya, ada pula sosok-sosok mahasiswa yang loyo. Yang tergerus oleh penyakit-penyakit zaman, yang menyerah dan terlindas oleh kereta api sejarah. Mereka tidak berperan, sebab telah menjadikan dirinya sebagai bagian dari penyakit sosial. Tentu saja ini merupakan sebuah sisi gelap dari sosok mahasiswa.

Sesungguhnya, yang perlu diprihatinkan lebih serius juga adalah, konteks cara pandang dan cara berpikir kalangan muda. Penyakit-penyakit sosial yang kelihatan tersebut akan diperparah oleh kekeliruan cara pandang (paradigma) dan cara berpikir, dalam merespon dan menyikapi sesuatu secara dewasa. Cara pandang, cara berpikir yang salah akan berimbas pada cara bertindak yang salah, dan sebentuk gaya hidup yang salah pula. Gaya hidup yang salah inilah yang memunculkan penyakit sosial, di mana mahasiswa loyo tak berguna. Cara pandang, cara berpikir, dan cara bertindak yang salah itulah pragmatisme. Demikian fatal adanya.

Singkat kata, dua wajah yang berbeda itu adalah idealisme versus pragmatisme. Kondisi eksternal yang ada saat ini, di tengah derasnya globalisasi, ditambah dengan situasi multikrisis yang tak kunjung reda, kita masih berada di terowongan gelap, dan belum tahu kapan pintu keluarnya, tampak sekali lebih banyak mendukung aksi-aksi pragmatisme.

Tawaran-tawaran jalan pintas untuk mengelola hidup secara praktis ditawarkan, walaupun hanya sebatas angan-angan. Tatkala jalan pintas menjadi pilihan utama untuk menuntaskan banyak hal, maka, banyak hal yang lebih krusial, lebih penting dan maknawi ditinggalkan dan diabaikan. Nilai-nilai kewajaran hidup tergeser oleh ideologi pragmatisme.

Sementara, idealisme makin menjadi hal yang langka, terkepung oleh pesan-pesan pragmatisme, yang sedemikian mengujam dan menukik kehidupan para mahasiswa.

BULETIN
EL FIKR
Genggam Dunia Dengan Berfikir

“Perjuangan Tak Semudah Membalik Telapak Tangan”
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Salam Keilmuan…
Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Al Kholiq Al Wahhab. Tuhan seru semesta alam. Pemberi rahmat bagi yang taat dan pemberi siksa bagi yang ingkar dan berkhianat.
Sholawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada beliau Al Mujtaba, Nabiyulloh Muhammad SAW. Nabi terakhir, dan tak ada nabi setelah beliau.
Alhamdulillah kembali “El Fikr” sebagai salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) STAIM dapat menerbitkan buletin purna semester, dengan harapan dapat menjadi sarana keilmuan dan intelektual mahasiswa.
Meski sederhana, namun tidak mengurangi bobot dan muatan layaknya sebuah buletin.
Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, serta bulan kemerdekaan negara kita tercinta ini, maka tidak salah bila buletin ini terpanggil untuk mengangkat sebuah tema yang bertajuk “perjuangan”
So, mari berkreasi, berpikir, memburu ilmu dan genggam dunia dengannya.
Wassalamu Alaiakum Wr. Wb












KENAPA KITA HARUS MENJADI AKTIVIS??

Setiap Orang tua pasti menginginkan anaknya untuk sukses dalam bekerja dimana kategori sukses menurut orang tua adalah menjadi PNS atau pegawai kantoran,bahkan jadi tentara. Namun pernahkan ada orang tua yang menyarankan anak atau menantunya untuk bekerja menjadi aktivis, atau menjadi sang demonstran…?
Kata aktivis dalam penyerapan bahasa Indonesia adalah seorang yang aktif dalam berkegiatan atau orang yang dalam kehidupannya total memperjuangkan tujuan atau cita-citanya.
Bila kita masih dapat mengingat pelajaran sejarah dari zaman masih duduk di bangku sekolah sampai kuliah, maka kita tak bisa pungkirin bahwa kemerdekaan bangsa ini karena adanya aktivis-aktivis yang lahir dari para pemuda bangsa indoneisia.
Di era 60an lahir juga aktivis-aktivis dari dunia kemahasiswaan yang bicara dari hati, bicara tanpa ada rasa pamrih untuk sebuah perubahaan negara, yang pada saat itu banyak ketimpangan di negeri Indonesia.
Perjuangan tersebut dilanjutkan oleh para penerusnya yang masih memiliki keidialisan, pada era tahun 70an dimana para pemuda, mahasiswa mulai gerah melihat ketidak adilan yang dilakukan oleh pemimpin di jaman orde baru.
Di tahun 1998 genderang reformasi ditabuh dan mulailah bak jamur di musim hujan dimana tumbuh berbagai macam Yayasan, LSM yang memiliki Fokus dan kegiatannya beragam, visi, misi, pendekatan, dan isu yang dikembangkannya terbilang sangat luas dan banyak. Saat ini kita dapat melihat aktivis dari fokus kegiatan yang dilakukan, dan munculah sederet sebutan yang saat ini tak asing lagi bagi kita baik aktivis perempuan, aktivis HAM, aktivis hukum, aktivis lingkungan, dan lain sebagainya

Aktivis Dan Gerakan NGO (Non Goverment Organization)
Di zaman demokrasi pasca reformasi, yang ternyata membawa iklim baik bagi pergerakan aktivis di indonesia dimana mereka saat ini bekerja dengan di naungi oleh sebuah lembaga yang mempunyai payung hukum, ada yang berbentuk yayasan, perkumpulan,dll, begitupun gerak tujuannya.
Namun sayangnya pergerakan tersebut tak jarang lari dari sebuah rel yang seharusnya di emban NGO, maka tak heran seharusnya fungsi NGO adalah menjadi mitra pemerintah, atau meluruskan gerakan dari pemerintah yang terkadang sering keluar dari relnya. Maka tak heran ketika pemerintah berbuat salah, maka sejumlah kelompok NGO melakukan protes dan memberikan berbagi macam solusi untuk pemerintah, bila NGO bekerja sebagaimana mestinya dan ada kelegowoan dari pemerintah yang mau menerima kritik, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang dewasa yang pada akhirnya menjadi basang yang berkarakter, maju di segala bidang.
Bangga Menjadi Aktivis
Lahirnya aktivis di Indonesia banyak disebabkan karena ketidakpuasan atas kinerja pemerintah dalam melakukan pembangunnan yang lebih memihak pada kepentingan sepihak dibanding kepentingan mayoritas, selain itu juga banyak yang dipengaruhi karena ketidakpuasan terhadap produk hukum yang dikeluarkan oleh Negara. yang berujung pada ketidakseriusan dalam menindak kejahatan dan ketidakadilan.
Aktivis adalah mata rantai yang berfungsi sebagai jembatan dan penghubung. Maka bukankah tanpa aktivis segalanya akan terputus dan transparansi akan hilang??






Revolusi
Oleh : W.S. Rendra
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air
Saat ini kita masih terperangkap lingkaran setan
KEMISKINAN
KETIDAKPEDULIAN
KORUPSI
KERJA ASAL-ASALAN
Ayo, kita yang tidak mau lagi dijajah oleh
Kemiskinan dan kesusahan
Kini saatnya REVOLUSI kebangsaan!!!
Mari kita berjanji…
Aku
Warga Negara Indonesia
Kutumpahkan darahku,
Badanku dan hatiku
Berperang melawan
Kemiskinan dan kesusahan
Belajar dan bekerja sungguh-sungguh
Dengan semua kekuatan otot dan otakku
Menjadi pendobrak kemajuan
Bangsa dan keluarga
Demi masa depan
Indonesia bahagia dan sejahtera

Selasa, 04 Agustus 2009

Al Ghozali Vs Filosof

SANGGAHAN IMAM AL GHOZALI
TERHADAP PARA FILOSOF ISLAM

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Matakuliah
Filsafat Islam

Dosen Pembina: Drs. Amiruddin, M. Pd. I

Oleh:
iir

SEMESTER: II-B

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"
(STAIM)
JURUSAN TARBIYAH, PRODI S-1 PAI
NGLAWAK-KERTOSONO
Mei, 2009
BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Allah SWT telah memberikan anugerah yang sangat besar kepada manusia berupa kenikmatan akal. Dengan akal pula manusia menjadi makhluk yang paling sempurna diantara semua makhlukNya, seperti dalam QS. At Thin: 5. Namun kesempurnaan akal bukanlah sebuah yang mutlak, sehingga bisa mengungguli risalah Allah SWT yang diturunkan kepada rosulNya.
Filsafat, merupakan salah satu cara mengetahui kebesaran dan keesaan Allah. Filsafat juga merupakan sebuah bentuk rasa syukur manusia kepada nikmat Tuhan yang berupa akal. Namun penggunaan akal yang liar dan melampaui otoritasnya, akan menimbulkan hal yang bertentangan dengan risalahNya. Dari sinilah Hujjatul Islam Imam Al Ghozali, memberikan bantahan terhadap para filosof muslim yang notabene terlalu mendewakan akal mereka.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah singkat dari Imam Al Ghozali??
2. Apa saja karya-karya dari Imam Al Ghozali??
3. Bagaimana sanggahan Al Ghozali mengenai pendapat para filosof yang dianggap menyimpang??

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah singkat dari Imam Al Ghozali
2. Untuk mengetahui karya-karya dari Imam Al Ghozali
3. Untuk mengetahui sanggahan Imam Al Ghozali mengenai pendapat para filosof yang dianggap menyimpang

BAB II
SANGGAHAN IMAM AL GHOZALI TERHADAP PARA FILOSOF ISLAM


2.1 SEJARAH SINGKAT IMAM AL GHOZALI
Imam Al Ghozali bernama lengkap Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad Al Ghozali At Thusi. Beliau dilahirkan di Ghazal, Thus, Provinsi Khurasan , Republik Islam Iran pada tahun 450 H atau 1058 M.
Imam Al Ghozali sejak kecil sudah belajar pada ulama ahli tasawwuf, yakni Syekh Yusuf An Nassaj, Sepeninggal gurunya, beliau belajar kepada ulama di Thus, yakni Syekh Ahmad Ibn Muhammad Al Razakanya. Kemudian beliau melanjutkan menuntut ilmu pada Syekh Abu Nashr Al Isma'ily di Jurjani. Lalu akhirnya masuk ke sekolah An Nizhomiyah di Naisabur yang dipimpin oleh Imamul Haromain.
Dalam madrasah An Nidzomiyah beliau juga sempat belajar ilmu tasawwuf kepada syekh Muhammad Ibn Ali Al Farmadhi. Beliau diangkat menjadi dosen sejak umur 25 tahun, kemudian setelah guru beliau Al Juwainy wafat, beliau pindah ke Mu'askar dan berhubungan baik dengan Nidzham Al Mulk, perdana menteri Bani Saljuk. Kemudian diangkat menjadi guru besar Universitas Nidzomiyah karena repitasi beliau yang sangat hebat.
Beliau mulai berpolemik dengan golongan Bathiniyyah dan filosof . Dari sinilah beliau mulai merasakan syak (keraguan) terhadap pengetahuan, baik itu yang bersifat empirisme maupun yang rasionalisme.
Kemudian beliau pergi ke Damaskus, disana beliau beruzlah (mengasingkan diri) setelah meninggalkan segala pangkat dan reputasi yang telah beliau peroleh, di Masjid Jami Damaskus.
Beliau beribadah, tafakkur, dan mengisolasi diri dalam dunia sufistik selama 2 tahun. Lalu pada tahun 490 H/ 1098 M beliau berziarah ke Palestina dan berdoa di makam Nabi Ibrahim as. Kemudian berziarah ke Makkah dan Madinah untuk melakukan haji serta berdoa di makam Nabi Muhammad SAW. Dengan jalan inilah akhirnya beliau lepas dari keguncangan jiwanya.
Setelah sembuh dari sakitnya, beliau kembali memimpin Universitas An Nidzomiyah atas desakan perdana menteri Fakhr Al Mulk. Setelah Al Mulk meninggal beliau kembali ke Thus dan membangun pondok sufi sampai beliau wafat tahun 505 H/ 1111 M.
Dengan berbagai kemampuan yang beliau miliki, Al Ghozali dapat menjadikan sunnah, filsafat, dan sufisme menjadi satu aturan yang harmonis dan seimbang. Beliau dapat menempatkan ilmu agama, sufisme, dan filsafat pada satu pemikiran yang logis dan teratur. Beliau dapat mengembalikan pengikut sufi pada syari'at lahiriyah, mengembalikan para filosof yang mengandalkan akal semata pada jalan yang benar.
Imam Al Ghozali diberi gelar penghormatan berupa Hujjatul Islam (Argumen Islam), karena pendapat beliau yang sangat mengagumkan dalam membela Islam. Membela Islam dari kaum bathiniyah yang menyatakan bahwa ayat Al Qur'an mengandung tafsir bathin yang hanya diperoleh dari orang yang hatinya jernih, dari kaum filosof yang beranggapan bahwa dengan akal yang mandiri telah cukup untuk mengetahui hakikat sebuah kebenaran, dan dari kaum sufi yang meninggalkan syari'at lahiriyah.

2.2 KARYA-KARYA IMAM AL GHOZALI
Adapun karya-karya beliau di antaranya adalah:
a. Ihya' Ulum Al Din, berisi kumpulan pokok-pokok agama dan aqidah, ibadah, akhlak, dan kaidah-kaidah suluk (sufisme)
b. Al Iqtishad fi Al I'tiqad, berisikan aqidah faham Asy'ariyah
c. Maqosidul Falasifah, berisikan ilmu mantiq dan ketuhanan
d. Tahafutul Falasifah, berisikan kritikan kepada para filosof
e. Al Munqiz Minad Dholal, berisikan kelemahan dan kelebihan aliran-aliran yang muncul pada masa itu dalam kerangka kritis Al Ghozali
f. Bidayatul Hidayah, berisikan akhlak dan tata cara beribadah
g. Mizanul Amal, berisikan penjelasan tentang akhlak.
Dan masih banyak lagi karya-karya beliau baik dalam bidang aqidah, syari'ah, tasawuf, maupun ilmu-ilmu keduniaan.

2.3 SANGGAHAN AL GHOZALI TERHADAP FILOSOF ISLAM
Melihat perpecahan yang tejadi di zaman beliau, beliau berusaha menciptakan sebuah keseimbangan dari berbagai aspek islam. Beliau melontarkan argumen bik berupa kritik, saran maupun plus minus aliran-aliran yang muncul pada waktu itu, utamanya dapat dilihat dalam kitab beliau Al Munqiz minadh Dholal.
Dalam mengkritisi aliran-aliran yang ada, utamanya aliran filsafat. Beliau terlebih dahulu mempelajari ajaran-ajaran maupun pola pikir mereka. Dalam sebuah tulisannya, beliau berkata:
"Sejak muda hingga saat ini, sejak usiaku menjelang lima puluh tahun, ku arungi ombak lautan yang dalam ini, ku temukan berbagai rahasia aliran kelompok.
Aku tidak meninggalkan kelompok bathiniyah kecuali telah ku telaah kebathiniyahannya. Aku tidak meninggalkan kelompok zhahiri, kecuali telah ku kuasai kezhahiriannya.
Tidak ku tinggalkan kelompok filosof kecuali telah aku menguasai hakikat filsafatnya. Tidak ku tinggalkan kelompok teologis kecuali aku telah benar-benar mengkaji puncak teologis dan perdebatannya.
Tidak ku abaikan kelompok sufi, tidak juga kelompok zindiq kecuali telah aku meneliti sebab-sebab di balik keberanian dan kezindiqannya."
Dalam kitabnya Al Munqiz Minadh Dholal beliau membagi kelompok filosof menjadi tiga golongan:
a) Dahriyyun (filosof materialis), misalnya: Materialisme, Marxisme
b) Thabi'iyyun (filosof naturalis), misalnya: Naturalisme, Eksentialisme, Kantisme
c) Ilahiyyun (filosof Ketuhanan), misalnya: Platonisme, Aristotelisme
Sebenarnya sanggahan beliau tidak kepada mayoritas filosof, namun lebih kepada para pemikir yang besar, yakni Aristoteles, dan Plato serta Ibnu Sina dan Al Farabi yang menyebarkan ajaran mereka pada dunia Islam. Dan yang menyebabkan beliau memberikan pukulan telak bagi para filosof hanya dalam bidang ketuhanan dan keimanan (aqidah).
Menurut beliau, filsafat Ibnu Sina maupun Al Farabi dibagi menjadi tiga kelompok:
1. filsafatnya tidak perlu disangkal, dapat diterima
2. filsafatnya yang harus dipandang sebagai bid'ah
3. filsafatnya yang harus dipandang kafir
Kesalahan para filosof (dalam kitab Tahafutul Falasifah) terdapat dua puluh masalah, yaitu:
 Membatalkan pendapat mereka bahwa alam ini azali
 Membatalkan pendapat mereka bahwa alam ini kekal
 Menjelaskan keragu-raguan mereka bahwa Allah Pencipta alam semesta dan sesungguhnya alam ini diciptakanNya.
 Menjelaskan kelemahan mereka dalam membuktikan Yang Maha Pencipta
 Membatalkan pendapat mereka bahwa Allah tidak memiliki sifat
 Membatalkan pendapat mereka bahwa Allah tidak terbagi dalam Al Jins dan Al Fashl
 Membatalkan pendapat mereka bahwa Allah memiliki substansi dan tidak memiliki hakikat
 Menjelaskan kelemahan mereka bahwa Allah tidak berjisim
 Menjelaskan pendapat mereka tentang Ad Dahr (kekal dalam arti tidak bermula dan berakhir)
 Menjelaskan pendapat mereka bahwa Allah mengetahui yang selainNya
 Menjelaskan kelemahan pendapat mereka bahwa Allah hanya mengetahui Zat-Nya
 Membatalkan pendapat mereka bahwa Allah tidak mengetahui yang juz'iyyat (parsial)
 Menjelaskan pendapat mereka yang menyatakan bahwa planet-planet adalah hewan-hewan yang bergerak semau mereka
 Membatalkan apa yang mereka sebutkan sebagai tujuan penggerak planet-planet
 Membatalkan pendapat mereka bahwa planet-planet mengetahui yang juz'iyyat
 Membatalkan pendapat mereka yang mengatakan bahwa mustahil sesuatu terjadi di luar hukum alam
 Menjelaskan pendapat mereka bahwa roh adalah substansi (jauhar) yang berdiri sendiri dan tidak memiliki tubuh
 Menjelaskan pendapat mereka bahwa mustahil terjadinya fana (leburnya) jiwa manusia
 Membatalkan pendapat mereka bahwa tubuh tidak akan dibangkitkan dan yang akan menerima kesenangan surga atau siksa neraka hanya roh.
Dari tiga puluh masalah tadi yang paling dikritisi oleh Al Ghozali Adalah 5 masalah yakni:

1. Masalah qodimnya alam
Pada umumnya para filosof beranggapan bahwa alam ini qodim, jadi dari segi dzat bukan dari segi zaman (waktu). Adapun pandangan para filosof adalah:
Filosof: Seandainya alam itu tidak qodim, mengapa Allah mengadakan alam itu sekarang, bukan sebelumnya?maka kehendak penciptaa (irodah) itu dari dzat atau luar dzatNya?keduanya adalah mustahil, karena Allah tidak mengalami perubahan. Jadi alam ini qodim
Al Ghozali: Alam ini memang baru dikehendakiNya untuk diciptakan pada sebuah zaman, karena sifat irodahNya yang mutlak sebagai Tuhan, jadi kenapa harus ada pengekangan iradahNya?dan sebab Allah adalah wujud yang wajib, jadi hal ini sesuai dengan hubunganNya dengan wujud yang mungkin. Jadi alam ini baru (huduts).
Filosof: Kekadiman alam hanya dari segi zaman, bukan dari segi dzat, hal ini sama seperti angka 1 yang mendahului angka 2 dan seterusnya atau gerakan tangan mendahului cincin.
Al Ghozali: wujud Allah lebih dulu dari segi zat maupun alam, jadi kita bayangkan Allah adalah dzat yang berdiri sendiri, lalu diciptakannya alam, seterusnya diciptakanlah zaman. Menurut beliau mengandaikan zaman sebelum zaman hanya khayal manusia belaka.
Filosof: Alam merupakan wujud mungkin, kemungkinan ini tak ada awalnya, jadi abadi
Al Ghozali: Seandainya dikatakan bahwa kemungkinan itu abadi, maka semakin tidak cocok dengan teori kemungkinan, karena yang menciptakan sebuah "kemungkinan"hanya Allah semata.
Al Ghozali memandang paham alam qodim ini bertentangan dengan sifat keesaan Tuhan, karena itulah dihukuminya filosof-filosof itu kafir.



2. Masalah bahwa Allah tidak mengetahui yang juz'iyyat (parsial)
Para filosof, utamanya Ibnu Sina berpendapat bahwa Allah tidak mengetahui selain Zat-Nya, jadi hanya mengetahui Zat-Nya. Allah mengetahui sesuatu dengan ilmu-Nnya yang kulli (umum).
Filosof: Allah hanya mengetahui dengan ilmuNya yang Kulli, sebab dalam alam selalu terjadi perubahan, seandainya Allah juga mengetahui yang juz'iyyat (rinci) maka akan terjadi pula perubahan ilmu Allah, dan itu mustahil terjadi padaNya.
Al Ghozali: Para filosof telah membuat kesalahan yang fatal, karena ilmu merupakan idhofat (rangkaian yang berhubungan dengan zat), jadi ilmu yang berubah tidak membawa perubahan pada dzat, dalam artian shohibul ilmi (yang memiliki ilmu) tidak berubah meski pengetahuannya bertambah atau berkurang, begitu pula Allah. Jadi Allah SWT juga mengetahui hal-hal yang juz'iyyat (parsial). Dikuatkan dengan QS. Yunus: 61 dan Qs. Al Hujurat: 16
3. Masalah kebangkitan jasmani di akhirat
Para filosof berpendapat bahwa kebangkitan jasmani di akhirat tidak ada. Adapun materi dalam akhirat hanya simbol-simbol saja untuk memudahkan pemahaman orang awam.
Filosof: Akhirat adalah suci dari penggambaran orang-orang awam, jadi yang dibangkitkan adalah roh saja. Selain itu bagaimana mungkin jasad dibangkitkan, sementara bagian-bagiannya telah dimakan ulat, ulat dimakan burung, dan burung dimakan manusia. Serta adanya cacat fisik manusia, dan akhirat suci dari hal-hal tersebut.
Al Ghozali: Akal saja tidak bisa memberikan pengertian jauh pada metafisika, telah tegas dalam syari'at Islam bahwa jasad juga akan dibangkitkan, bukankah Allah Maha Kuasa membangkitkan jasad dimanapun tercecernya, seperti Ia kuasa menciptakan otot, gigi, kulit, hanya dari setetes air mani, bukankah lebih mudah mengembalikan tubuh (jasmani) daripada penciptaan pertama (air mani).
4. Masalah hubungan kausalitas (sebab-akibat)
Para filosof, utamanya Ibnu Rusyd memandang hukum kausalitas (sebab-akibat) sebagai sebuah keniscayaan (pasti).
Filosof: Setiap ada musabab pasti ada sebab, adapun sebab itu berpengaruh otomatis secara efektif untuk menimbulkan efektifitas (akibat). Bukankah al fa'il (Allah) juga merupakan sebab utama segala sesuatu?diperkuat QS Al Isra' 77
Al Ghozali: Kecuali Al fa'il awwal (Allah), bahwa hubungan sebab akibat itu merupakan benar adanya, namun bukan sebuah keharusan. Kausalitas hanyalah adat/ kebiasaan yang diciptakanNya, yang nantinya disebut sunnatulloh, namun irodat Allah tetap mutlak adanya untuk menciptakan khoriqul adat (diluar adat) seperti Nabi Ibrahim tidak terbakar api, Nabi Sulaiman berjalan di atas angin dll.
5. Masalah Teori Emanasi
Para filosof, utamanya Ibnu Sina dan Al Farabi sepakat bahwa alam diciptakan secara pancaran (emanasi).
Filosof: sebagai Al Kholiq, Allah menciptakan alam ini tanpa ada perantara zaman, jadi alam ini qodim secara zaman, namun hanya Allah yang qodim secara dzat, Allah berta'aqqul (menggunakan akalNya), kemudian muncul energi dahsyat membentuk materi awal (al hayulal ula), kemudian Ia rubah bentuk materi awal itu menjadi alam, hal ini sesuai dengan sunnatulloh bahwa biji berubah menjadi anak pohon, anak pohon menjadi pohon, pohon berbuah dan buah jatuh menjadi tanah. Jadi pohon tidak ada begitu saja, juga sejalan dengan konsep penciptaan alam dalam Al Qur'an
Al Ghozali: Bila seandainya Allah hanya bertaaqqul untuk diriNya sendiri, maka akal akan lebih tinggi daripada Allah, karena akal bisa memikirkan Allah maupun dirinya sendiri. Seandainya alam ini dari hayulal ula maka alam juga qodim zatnya, jadi tidak ada beda pencipta dan yang diciptakan. Maka kaum filosof menganggap Allah seperti sebuah dzat yang pasif dan mati, yang hanya bisa memikirkan diriNya sendiri. Inilah sebuah kezindiqan
Bahkan filosof lain, seperti Ibnu Rusyd juga menyangkal teori Emanasi.
Demikian argumen-argumen sang hujjatul Islam dalam membela paham keislaman dari para filosof yang liar, yang berpikir jauh melampaui akal mereka sendiri, dan berpikir sesuatu yang membohongi diri mereka sendiri, baik secara dalil nash (naqly), maupun dalil akal mereka (aqly).

BAB III
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
1. Pada dasarnya perbedaan yang terjadi antara Al Ghozali dan para filosof adalah otoritas akal dengan wahyu Allah (Qur'an-Hadits) pada hal-hal yang ada.
2. Kritik-kritik dan sanggahan, bahkan takfir beliau Al Ghozali hanya ditujukan pada masalah filsafat ketuhanan dan keimanan, bukan yang lainnya misalnya kenegaraan.
3. Secara umum, perbedaan pendapat beliau dengan para filosof adalah mengenai qodimnya alam, hubungan kausalitas, kebangkitan jasmani di akhirat, emanasi dan pengetahuan Allah SWT tentang hal juz'iyyat (parsial).

3.2 SARAN
1. Jangan pernah berhenti berpikir tentang kebesaran Allah
2. Akal kita terbatas, maka jangan terlalu mengumbar akal kita tanpa bimbingan agama atau syari'at.

DAFTAR PUSTAKA



1. Prof. Dr. Sirajuddin Dzar,MA. 2004. Filsafat Islam . Jakarta: Raja Grafindo Persada.

2. Husayn Ahmad Amin. 2001. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

3. Sidi Ghazalba. 1981. Sistematika Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang.

Sabtu, 23 Mei 2009

BELAJAR TUNTAS
(MasteryLearning)

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Ilmu Jiwa Belajar

Dosen Pembimbing:
Drs. Mu'adz Djamili

Disusun oleh:
Cah Ayu
Semester V-B















SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"
(STAIM)
NGLAWAK-KERTOSONO
Januari, 2009

BAB I
PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Dalam suatu lingkup pendidikan diperlukan suatu proses belajar mengajar yang yang sangat efektif karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar siswa. Dalam hal ini siswa dituntut untuk menguasai 3 aspek dalam belajar yakni psikomotor, afektif, dan kognitif. Di sisi lain siswa juga diharapkan mampu menguasai semua materi pelajaran yang diberikan oleh guru, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan seorang guru ikut terlibat di dalam mengantarkan anak didiknya menuju kesuksesan. Di era sekarang ini telah ditrepkan "Mastery Learning" untuk belajar tuntas. Tujuan diadakannya sistem pembelajaran tuntas tersebut diharapkan terciptanya suatu tujuan pendidikan. Oleh sebab itu makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang belajar tuntas "Mastery Learning".


B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:
1. Apakah pengertian dari belajar tuntas?
2. Apa saja ciri-ciri dari belajar tuntas?
3. Apakah prinsip-prinsip dari belajar tuntas itu?
4. Bagaimana pelaksanaan dari belajar tuntas?
5. Apa keunggulan dan kelemahan dari belajar tuntas?



C. TUJUAN PEMBAHASAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dibuat sebuah tujuan pembahasan, yakni:
1. Mengetahui pengertian dari belajar tuntas
2. Mengetahui ciri-ciri dari belajar tuntas
3. Mengetahui prinsip-prinsip dari belajar tuntas
4. Mengetahui pelaksanaan dari belajar tuntas
5. Mempelajari keunggulan dan kelemahan dari belajar tuntas

BAB II
PEMBAHASAN


A. PENGERTIAN BELAJAR TUNTAS (MASTERY LEARNING)
Konsep belajar tuntas adalah proses belajar yang bertujuan agar bahan ajaran dikuasai secara tuntas, artinya cara menguasai materi secara penuh. Belajar tuntas ini merupakan strategi pembelajaran yang diindividualisasikan dengan menggunakan pendekatan kelompok. Dengan sistem belajar tuntas diharapkan proses belajar mengajar dapat dilaksanakan agar tujuan instruksional yang akan dicapai dapat diperoleh secara optimal sehingga proses belajar lebih efektif dan efisien. Tingkat ketuntasan bermacam-macam dan merupakan persyaratan yang harus dicapai siswa. Persyaratan penguasaan bahan tersebut berkisar antara 75% sampai dengan 90%.

B. CIRI-CIRI BELAJAR TUNTAS
a. Siswa dapat belajar dengan baik dalam kondisi pengajaran yang tepat sesuai dengan harapan pengajar.
b. Bakat seorang siswa dalam bidang pengajaran dapat diramalkan, baik tingkatannya maupun waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari bahan tersebut. Bakat berfungsi sebagai indeks tingkatan belajar siswa dan sebagai suatu ukuran satuan waktu.
c. Tingkat hasil belajar bergantung pada waktu yang digunakan secara nyata oleh siswa untuk mempelajari sesuatu dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya.
d. Model Carroll
Tingkat belajar sama dengan ketentuan, kesempatan belajar bakat, kualitas pengajaran, dan kemampuan memahami pelajaran.
e. Setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang berdiferensiasi dan kualitas pengajaran ynag berdiferensiaisi pula.

C. PRINSIP-PRINSIP BELAJAR TUNTAS
Para pengembang konseb belajar tuntas mendasarkan pengembangan pengajarannya pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan. Tugas guru untuk merancang pengajarannya sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai hampir seluruh bahan ajaran
2. Guru menyusun strategi pengajaran tuntan mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa.
3. Sesuai dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar menjadi satuan-satuan bahan ajaran yang kecil yang medukung pencapaian sekelompok tujuan tersebut.
4. Selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik.
5. Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi menggunakan acuan patokan.
6. Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual. Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yaitu siswa yang pandai atau cepat belajar bisa maju lebih dahulu pada satuan pelajaran berikutnya, sedang siswa yang lambat dapat menggunakan waktu lebih banyak atau lama sampai menguasai secara tuntas bahan yang diberikan.
D. PELAKSANAAN BELAJAR TUNTAS
Dalam pelaksanaan konsep belajar tuntas apabila kelas itu belum biasa mengguanaakn strategi belajara tuntas, maka guru terlebih dahulu memperkenalkan prosedur belajar tuntas kepada siswa dengan maksud memberikan motivasi, menumbuhkan kepercayaan diri, dan memberikan petunjuk awal.
Pelaksanaan belajar tuntas terdiri atas langkah-langkah sebagai berikut:
a. Kegiatan orientasi
Kegiatan ini megorientasikan setiap siswa terhadap belajar tuntas yang berkenaan terhadpa orientasi tentang apa yang akan dipelajari oleh siswa dalam jangka waktu satu semester dan cara belajar yang harus dilakukan oleh siswa. Guru menjelaskan keseluruhan bahan yang telah dirancang, lalu melanjutkan dengan pra test.
b. Kegiatan belajar mengajar
1. Guru mengenalkan TIK pada satuan pelajaran yang akan dipelajari dengan cara:
 Memperkenalkan tabel spesifikasi tentang arati dan car mempergunakannya untuk kepentingan belajar.
 Mengajukan pertanyaan yang menonjolkan isi bahan yang disajikan
 Mengajukan topik umum/konsep umum yang akan dipelajari.
2. Penyajian rencana kegiatan belajar berdasarkan standar kelompok. Tujuannya adalah menjelaskan apa yang akan dilakuakan siswa dalam kegoiatan kelompok.
3. penyajian pelajaran dalam situasi kelompok berdasarkan satuan pelajaran. Guru menyampaikan pelajaran sambil memberi peringatan secara periodik untuk menarik perhatian siswa.
4. Mengidentifikasikan kemajuan belajar siswa yang telah memuaskan dan yang belum. Tes dilakukan setelah satu satuan pelajaran selesai diajarkan.
5. Menetapkan siswa yang hasil pelajarannya telah memuaskan. Mereka diminta untuk membantu temen-temannya sebagai tutor atau diberi tugas pengayaan bahan baginya sendiri.
6. Memberikan kegiatan kolektif kepada siswa ang hasil belajarnya belum memuaskan.
7. Menetapkan siswa yang hasil belajaranya memuaskan.
c. Penentuan tingkat penguasaan bahan
Setelah satuan pengajaran selesai diberikan, diadakan tes sumatif, dan diperiksa oleh temannya sendiri berdasarkan petunjuk guru. Mereka sendiri yang menentukan tingkat penguasaan bahan berdasarkan kriteria penguasaan yang telah ditetapkan sebelumnya.
d. Memberikan atau melaporkan tingkat penguasaan setiap siswa yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengayaan mereka, bahan yang sudah dikuasai ditandai dengan M (mastery) dan yang belum dikuasai ditandai dengan NM (non mastery)
e. Pengecekan keefektifan seluruh program
Keefektifan strategi belajar tuntas ditandai dengan hasil yang dicapai siswa, yakni persen siswa yang mampu tingkat mastery (standar A). Ada dua cara untuk menetukannya yang dapat dilakukan oleh guru:
1. Membandingkan hasil yag dicapaioleh kelas yang menggunakan strategi belajar tuntas dengan kelas yang menggunakan strategi lain.
2. Membuat hipotesis tentang hasil belajar, lalu dibuktikan berdasar hasil belajar kelas (membandingkan tes awal dan tes akhir)


E. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN BELAJAR TUNTAS
1. Keunggulan belajar tuntas
Strategi belajar tuntas memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut:
a) Memungkinkan siswa belajar lebih aktif, karena memberikan kesempatan mengembangakn diri, dan memecahkan masalah sendiri dengan menemukan dan bekerja sendiri.
b) Sesuai dengan psikologi belajra modern yang berpegang pada prinsip perbedaan individual dan belajar kelompok.
c) Berorientasi pada peningkatan produktivitas hasil belajar, yakni menguasai bahan ajar secara tuntas.
d) Guru dan siswa bekerjasama secara partisipatif dan persuasif.
e) Penilaian yang dilakukan mengandung nilai obyektifitas yang tinggi karena penilaian dilakukan oleh guru, teman dan diri sendiri.
f) Strategi ini tidak mengenal kegagalan siswa, karena siswa yang kurang mampu dibantu oleh guru dan temannya.
g) Berdasarkan perencanaan yang sistematik.
h) Menyediakan waktu berdasarkan kebutuhan masing-masing iindividu.
i) Berusaha menutupi kelemahan-kelemahan strategi belajr yang lain.
j) Mengaktifkan para guru sebagai regu yang harus bekerjasama secara efektif sehingga proses belajar mengajar dapat dilaksanakan secara optimal.

2. Kelemahan belajar tuntas
a) Sulit dalam pelaksanaan karena melibatkan berbagai kegiatan.
b) Guru-guru masih kesulitan membuat perencanaan karena dibuat dalam satu semester.
c) Guru-guru yang sudah terlanjur menggunakan teknik lama sulit beradaptasi.
d) Memerlukan berbagai fasilitas, dan dana yang cukup besar.
e) Menuntut para guru untuk lebih menguasai materi lebih luas lagi dari standar yang ditetapkan.
f) Diberlakukannya sistem ujian (EBTA atau EBTANAS) yang menuntut penyelenggaraan program bidang studi pada waktu yang telah ditetapkan dan usaha persiapan siswa untuk menempuh ujian.


BAB III
PENUTUP


A. KESIMPULAN
1. Belajar tuntas (mastery learning) adalah belajar mengajar yang bertujuan agar bahan ajaran yang dikuasai secara penuh.
2. Ciri-ciri belajar tuntas
a) Siswa dapat belajar dengan baik dalam kondisi pengajaran yang tepat
b) Bakat seorang siswa dalam bidang pengajaran dapat diramalkan
c) Tingkat hasil belajar bergantung pada waktu yang digunakan
d) Model Carroll
e) Setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang berdiferensiasi
3. Prinsip-prinsip dari belajar tuntas yaitu:
a. Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal
b. Guru menyusun strategi pelajaran tuntas
c. Sejalan dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar
d. Selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan
e. Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi menggunakan acuan patokan.
f. Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual
4. Kegiatan belajar tuntas memiliki beberapa keunggulan, namun juga memiliki beberapa kelemahan.

DAFTAR PUSTAKA


1. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. PT. Remaja Rosdakarya: Jakarta.

2. Ahmadi, Abu, dkk. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia

3. Mansyur. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Ditjen Pembinaan dan Kelembagaan Agama Islam.

4. Http://andeieirfan.multiply.com/journal/item/5/model_mastery_learning.

Senin, 02 Februari 2009

Dua Materialisme Filsafat

DUA MATERIALISME DALAM
DUNIA FILSAFAT

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Ilmu Pengantar Filsafat Umum

Disusun oleh:
Wahyu Irvana
Semester I-B

Dosen Pembimbing:
Drs. Amiruddin, M.Pd














SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"
(STAIM)
JURUSAN TARBIYAH PRODI S-1 PAI
NGLAWAK-KERTOSONO
Pebruari, 2009

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Akal merupakan kelebihan yang dimiliki manusia dari mahluk lain. Dari akal pula muncul berbagai ilmu pengetahuan, karena pemikiran yang dilakukan akal bersumber pula dari ilmu-ilmu yang telah ada. Dan dengan kemampuan rasio pula manusia dapat menjangkau jauh dari sesuatu yang hanya terlihat (empiris), sesuatu di luar indera dan menemukan sebuah kebenaran filsafat.
Dengan tingkat pemahaman manusia yang beragam menyebabkan perbedaaan pendapat tentang kebenaran yang di anut. Dan hal ini menimbulkan berbagi aliran dalam dunia filsafat, salah satunya adalah filsafat materialisme yang lebih menekankan pada kenyataan dan empirisme. Maka dalam makalah ini akan dibahas aliran yang sarat dengan hal nyata, namun kita harus tahu bagaimanakah filsafat, dan makalah ini akan menjawabnya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:
1. Apa pengertian dari filsafat?
2. Apa saja objek filsafat?
3. Apa pengertian dari filsafat aliran materialisme?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari filsafat.
2. Untuk mengetahui objek dari filsafat.
3. Untuk mengetahui pengertian dari filsafat aliran materialisme.

BAB II
DUA MATERIALISME DALAM DUNIA FILSAFAT


A. FILSAFAT
1. Pengertian Filsafat
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang juga diambil dari bahasa Yunani philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Adapun pengertian filsafat menurut para ahli adalah:
a) Plato
Filsafat adalah pengertian segala sesuatu yag ada da ilmu yang berminat mencapai kebenaran asli.
b) Aristoteles
Filsafat adalah ilmu yang terkandung dalam metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
c) Marcus Tulius Cecero
Filsafat adalah ilmu pengetahuan sesuatu Yang Maha Agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
d) Al Farabi
Filsafat adalah ilmu tentang alam maujud dan hakikat yang sebenarnya.



e) Immanuel Kant
Filsafat adalah ilmu yang meliputi 4 persoalan, yaitu: apa yang dapat anda ketahui (metafisika), apa yang boleh kita kerjakan (fisika/logika), apa manusia itu (antropologi), dan sampai mana pengharapan kita (agama).
Dari sini dapat kita ketahui bahwa filsafat adalah segala upaya untuk mencapai kebenaran yang hakiki.

2. Tujuan Filsafat
Tujuan dasar dari filsafat adalah mencapai kebenaran sesuatu yang hakiki, baik berupa logika, metafisika, maupun etika. Namun para ahli berpendapat tentang tujuan filsafat sebagai berikut:
a) Sutan Takdir Alisyahbana
Filsafat bertujuan memberi ketenangan jiwa, fikiran dan hati sekalipun menghadapi maut.
b) Hussein
Filsafat adalah ilmu yang memberi kita hikmah dan kepuasan, sedangkan ilmu pengetahuan memberi kita pengetahuan.
c) Titus
Filsafat adalah tujuan mempelajari alam semesta, makna dan tujuannya.

3. Obyek Filsafat
Obyek yang dikaji dalam filsafat meliputi:
a. Umum, yakni menyelidiki segala sesuatu yang ada, disebut pula ontologi.
b. Mutlak, yakni dzat yang harus ada dan mutlak serta tidak tergantung pada apa dan siapa, tidak berpermulaan dan berpenghabisan, disebut pula TUHAN.
c. Kosmologi (jagat raya), yakni mencari hakikat alam semesta dan hubungannya dengan Yang Mutlak.
d. Antropologi (filsafat manusia), yakni mempelajari segala hal yang berkaitan dengan manusia.
e. Etika (tingkah laku manusia), yakni mempelajari tingkah laku manusia yang dipandang baik maupun buruk.
f. Logika, yakni menggunakan akal atau logis sebagai alat mencari kebenaran.

B. MATERIALISME
1. Pengertian Materialisme
Materialisme merupakan salah satu aliran dalam dunia filsafat. Materialisme adalah aliran yang memandang bahwa segala sesuatu adalah relitas, dan realitas seluruhnya adalah materi belaka. Kenyataan bersifat material dipandang bahwa segala sesuatu yang hendak dikatakannya adalah berasal dari materi dan berakhir dengan materi atau berasal dari gejala yang bersangkutan dengan materi.
Berbicara materialisme, berarti kita memasuki kajian ontologis di dalam kerangka sistematika filsafat yang mana tujuannya adalah mencari hakikat dari segala yang ada dan yang mungkin ada dari segala sesuatu.
Menurut materialisme, hakikat dari segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada adalah materi. Roh, jiwa, spirit dan sebagainya (yakni alam immateril) muncul dari materi. Rohani dan kawan-kawannya itu tidak akan ada seandainya tidak ada materi, termasuk di sini Tuhan yang jelas-jelas tampak tingkat abstraksinya. Adpun dasar pemikiran kaum materialis adalah:
1. Bersifat Empirisme dan Rasionalisme, yakni memahami segala sesuatu atas dasar akal dan indera saja.
2. Bersifat Naturalisme, yakni semua adalah alamiah.
3. Alam merupakan semesta yang bersifat abadi dan sebagai keseluruhan tidak terarah secara lurus kepada satu tujuan tertentu.
4. Jiwa merupakan gejala dari materi.
5. Semua perubahan yang terjadi bersifat kepastian semata.
6. Substansi-substansi materi merupakan penyusun utama sebuah materi dalam hal ini adalah atom.

2. Dua Materialisme Dalam Dunia Filsafat
a. Materialisme Metafisis atau Mekanistis(Ludwig Feurbach)
Ludwig Andreas Feurbach (1804-1872) lahir di Bavaria, Jerman dalam keluarga pengacara, akademisi dan orang-orang beriman yang pintar-pintar. Dalam objek yang ia kontemplasikan, manusia menjadi mengenal dirinya. Kesadaran tentang objek adalah kesadaran diri manusia. Objek adalah manifestasi hakikat manusia sehingga di dalamnya hakikat manusia menjadi gamblang. Kekuatan objek atasnya merupakan kekuatan hakikatnya sendiri. Kekuatan objek dari perasaan, intelek, dan kehendak adalah kekuatan perasaan, intelek dan kehendak itu sendiri.
Aliran ini berpendapat bahwa alam adalah unsur yang terbentuk dari atom materi yang berada sendiri dan bergerak. Aliran ini juga menggunakan energisme, yakni mengembalikan segala bentuk sesuatu pada energi. Mereka juga berpendapat bahwa manusia sama halnya seperti kayu dan batu. Tapi di sini bukan mereka berpendapat bawa manusia sama dengan kayu dan batu, namun pada akhirnya senua adalah materi, hanya materi. Dalam perkembangannya aliran ini dibagi dua periode yakni materialisme lama dan materialisme modern.
Aliran ini juga berpendapat bahwa alam (universe) merupakan kesatuan material yang tak terbatas. Alam, termasuk di dalamnya segala materi dan energi selalu ada dan akan tetap ada. Dan alam (world) adalah realitas yang keras, dapat disentuh, material, objektif, yang dapat diketahui manusia. Materialisme juga mengatakan bahwa jiwa (self) ada setelah materi, jadi psikis manusia merupakan salah satu gejala dari materi yang ada.
b. Materialisme Dialektis atau Historis (Karl Marx)
Materialisme aliran ini adalah aliran atau ajaran dari Karl Marx dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di kota Treir daerah Rheen, Prusia, Jerman. Ayahnya adalah seorang pengacara yang berada. Ia adalah keturunan Yahudi yang akhirnya sewaktu masih kecil beserta dengan keluarganya, mereka di baptis menjadi penganut agama Kristen Protestan. Sehingga aliran ini juga sering disebut dengan aliran Marxisme. Adapun pokok-pokok ajaran aliran ini adalah:
1. Teori materialisme historis.
2. Perjuangan kelas (class struggle)
3. Teori nilai dan teori lebih
Adapun disebut dengan Materialisme Historis, karena menurut teorinya arah yang ditempuh oleh sejarah sama sekali ditentukan oleh perkembangan sarana-sarana produksi yang materiil. Marx berkeyakinan bahwa arah sejarah manusia akan manuju pada satu arah yakni komunisme. Dengan kata lain segala kepemilikan pribadi akan diganti dengan kepemilikan bersama. Fase sejarah seperti ini mutlak terjadi, oleh karena itu perjuangan kelas adalah hal utama yang perlu dilakukan.
Sedangkan yang dimaksud dengan aliran Materialisme Dialektik adalah falsafah karl marx bahwa keadaan peristiwa kehidupan akan berubah, seperti layaknya benih pohon yang akan berusaha berubah wujud menjadi pohon. Dalam hal ini marx mengemukakan teori Tese, Antitese, dan Sintese. Tese adalah keadaan awal, dimana manusia hidup pada komunitas asli tanpa pertentangan kelas. Lalu antitese, diman mulai muncul kelas kaum kapitalis dan kaum proletar, maka timbul krisis yang hebat dimana pada akhirnya kaum proletar bersatu untuk mengadakan revolusi. Selanjutnya terjadilah masyarakat tanpa kelas, dimana produksi menjadi hak milik bersama atau negara dan fase inilah yang disebut sintese..
Jadi, dengan dijadikannya dialektika sebagai metode untuk memahami alam dan menempatkan ide materialistisnya dalam kerangka metode itu, maka secara otomatis Mark menolak prinsip-prinsip non kontradiksi dan alam-alam di luar materi.
Namun Karl marx dalam sebuah karyanya menolak dikatakan orang materialis freuerbach, dia lebih mengarahkan teorimya pada kesejahteraan manusia dari segi ekonomi, diman dalam hal ini adalah penolakan terhadap kaum kapitalis dan penyetaraan hak-hak kaum proletar (buruh) yang pada akhirnya menciptakan sebuah gagasa komunisme. Jadi menurutnya hal ini bukan hanya teori belaka namun lebih pada pengaplikasian fakta kehidupan.

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
1. Filsafat adalah segala upaya untuk mencapai hakikat sesungguhnya.
2. Tujuan filsafat adalah mencapai hakikat kebenaran dari sesuatu baik logika, metafisika ataupun estetika.
3. Obyek filsafat adalah umum, mutlak, kosmologi, antropologi, etika, dan logika.
4. Materialisme dibagi menjadi dua, yakni materialisme mekanik (Freuerbach) dan materialisme historik (Marx).

B. Saran
1. Filsafat berdasar rasio, jadi sebaiknya memilih filsafat yang berdasar rasio kita, namun jangan pernah takut untuk berfilsafat.
2. Filsafat sebaiknya diiringi oleh agama, yang merupakan kebenaran tertinggi.


DAFTAR PUSTAKA


1. Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

2. Syadali, Ahmad, 2006. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia.

3. Praja, Juhaya S. 2005. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Bumi putera.

4. Tafsir, Ahmad. 1997. Filsafat Umum. Bandung:Rosda Karya, Cet.V.

5. Lavine, TZ. 2003. Marx, Konflik Kelas dan Orang yang Terasing. Yogyakarta: Jendela.

6. http://artikeldaniklanbarisgratis.blogspot.com/2008/10/materialisme-metafisis-dan-dialektis.html

Kamis, 15 Januari 2009

Unsur-Unsur Budaya

UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Ilmu Sosial Dasar

Disusun oleh:
Wahyu Irvana
Semester I-B

Dosen Pembimbing:
Drs. HM. Muadz Jamili, M.Pd.I













SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"
(STAIM)
JURUSAN TARBIYAH PRODI S-1 PAI
NGLAWAK-KERTOSONO
Januari, 2009

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Kebudayaan merupakan faktor penting dalam kehikdupan manusia. Sebab kebudayaan memberikan arah kepada tindakan dan karya manusia. Kebudayaan yang telah ada akan tetap berjalan meski kadang-kadang wujudnya dapat berubah. Kebudayaan bukan hanya kesenian dan benda-benda budaya, akan tetapi mencakup seluruh sendi kehidupan manusia untuk menciptakan sebuah tatanan yang diharapkan. Unsur-unsur yang mempengaruhi keberadaan budaya akan terus memberikan arah bagaimana wujud dari kebudayaan itu untuk masa yang akan datang, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang unsur-unsur kebudayaan tersebut.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:
1. Apa definisi dari kebudayaan?
2. Apa saja wujud dari kebudayaan kebudayan?
3. Apa saja unsur-unsur dari kebudayaan?
4. Apa pengaruh kebudayaan terhadap kehidupan bermasyarakat?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari kebudayaan.
2. Untuk mengetahui wujud kebudayaan.
3. Untuk mengetahui unsur-unsur kebudayaan.
4. Untuk mengetahui pengaruh unsur-unsur kebudayaan terhadap kehidupan bermasyarakat.
BAB II
UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN

2.1 Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan atau disebut pula peradaban menurut Taylor mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suaut bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat.
Berbeda dengan Selo Soemarjan dan Soelaeman Sumardi yang mengemukakan definisi praktis dari kebudayaan, menurutnya kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari hasil penyelidikan para ahli, bahwa munculnya kebudayaan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
1. Anggapan bahwa adanya pemikiran atau perbuatan manusia
2. Anggapan bahwa tingkat kebudayaan atau peradaban sebagi akibat taraf perkembangan dan hasil evaluasi masing-masing sejarahnya.
Walaupun demikian menurut Kluckhon hampir semua antropolog Amerika setuju dengan teori proporsi yang diajukan Herkovits yaitu:
a) Kebudayaan dapat dipelajari
b) Kebudayaan berasal dari sumber segi biologis, lingkungan, psikologis, dan komponen sejarah eksistensi manusia.
c) Kebudayaan mempunyai struktur
d) Kebudayaan dapat dipecah-pecah ke dalam berbagai aspek
e) Kebudayaan bersifat dinamis
f) Kebudayaan memperlihatkan keteraturan yang dapat dianalisis secara ilmiah
g) Kebudayaan merupakan alat bagi seseorang untuk mengatur keadaan totalnya dan menambah arti bagi kesan kreatifnya.
Sebenarnya kebudayaan bila dilihat dari segi bahasa, menurut Koentjaraningrat berasal dari bahasa Sanskerta yakni buddhayah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.
Jadi budaya merupakan konsep yang dikemukakan akal untuk mengatur kehidupan manusia, dalam hal ini lebih ditekankan pada segi estetika pada tujuan akhirnya.

2.2 Wujud Kebudayaan
Wujud kebudayaan merupakan bentuk yang dihasilkan oleh pemikiran kebudayaan. Adapun wujud kebudayaan menurut J.J. Hoenigman, ada tiga wujud kebudayaan, yakni:
1. Gagasan
Yaitu wujud kebudayaan yang berupa gagasan, ide, nilai, norma, peraturan, dan lain sebagainya. Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba, disentuh dan bukan barang yang nyata. Jika gagasan ini dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan tersebut berada dalam karangan-karangan atau tulisan-tulisan. Misalnya: kitab kuno, prasati dan lain sebagainya.
2. Aktivitas
Yaitu tindakan atau aktivitas manusia yang berasal dari pemikiran kebudayaan. Wujud kedua ini sering disebut dengan sistem sosial, terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang sering berinteraksi. Sifatnya nyata, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, dapat diamati dan didokumentasikan. Misalnya: sistem adat, sitem kemasyarakatan dan lain sebagainya.
3. Artefak
Yaitu wujud fisik berupa hasil aktivitas atau karya manusia dalam masyarakat yang berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, didokumentasikan serta sifatnya wujud konkret. Misalnya: Patung, bangunan dan lain sebagainya

2.3 Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur kebudayaan merupakan bagian suatu kebudayaan yang dapat digunakan sebagai suatu analisis tertentu.
Menurut Kluchklon ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu:
1. Sistem religi dan upacara keagamaan
Merupakan produk manusia untuk membujuk kekuatan lain yang berada di atasnya, yaitu Yang Maha Besar untuk menuruti kemauan mereka.
2. Sistem organisasi kemasyarakatan.
Merupakan usaha manusia untuk menutupi kelemahan individu mereka dan meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
3. Sistem pengetahuan
Merupakan kemampuan manusia untuk mengetahui, mengingat, kemudian mengolah dan menyampaikannya pada orang lain.
4. Sistem mata pencaharian hidup
Merupakan usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan jasmaninya, untuk dapat bertahan hidup.
5. Sistem teknologi dan peralatan
Merupakan hasil olah pikir manusia untuk mempermudah dalam mengjakan atau mengetahui segala sesuatunya sehingga manusia dapat menciptakan atau menggunakan alat tersebut.
6. Bahasa
Bahasa merupakan segala sesuatu usaha manusia untuk dapat berkomunikasi. Bahasa dapat berupa simbol, tanda, gambar, maupun berupa lisan dan tulisan. Menurut Lyons bahasa merupakan seperangkat simbol dan tata aturan untuk menggunakan simbol-simbol dalam kombinasi-kombinasi yang penuh arti. Jadi bahasa dapat berupa apa saja asalkan memiliki arti untuk berkomunikasi.



7. Kesenian
Merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan psikisnya, dalam hal ini tentunya mengarah pada sebuah tujuan akhir, yaitu estetika (keindahan). Dengan kesenian manusia dapat mencurahkan segala kemampuannya untuk memenuhi apa yang mereka angap pantas dan indah.

Namun ada beberapa ahli yang mengemukakan unsur-unsur kebudayaan yang lain, diantaranya Meville J. Hertkovits yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuasaan politik. Broinslaw Mlinowski juga mengemukakan unsur-unsur budaya yang berupa sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga pendidikan dan organisasi kekuatan.

2.4 Pengaruh Unsur-Unsur Kebudayaan terhadap Kehidupan Masyarakat
Unsur-unsur kebudayaan merupakan bagian dari kebudayaan yang digunakan. Raph Linton mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan warisan sosial dari anggota masyarakat. Pengaruh unsur-unsur kebudayaan terhadap kehidupan masyarakat adalah:
1. Goodman dan Marx melihat kebudayaan sebagai warisan yang dipelajari dan ditranmisikan, jadi kebudayaan dalam hal ini berpengaruh terhadap perkembangan generasi-generasi berikutnya. Misalnya: bahasa dari sebuah suku akan terus dipakai oleh generasi yang akan datang pada suku tersebut.
2. M.J. Herskovits, bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang superorganic, yakni individu yang tinggal pada tempat budaya tersebut secara langsung atau tidak langsung akan memiliki dan menjadi anggota dari kebudayaan tersebut. Misalnya:seseorang yang tinggal di sebuah suku, maka secara otomatis akan menjadi putra suku tersebut.


3. Theodore M. Newcom, bahwa kepribadian menunjuk pada organisasi sikap-sikap seseorang untuk berbuat, mengetahui, berpikir, dan merasakan secara khusus. Jadi Newcomb menganggap kebudayaan lebih ke arah keindividuan sebagai salah satu kreator dari kebudayaan. Disini pengaruh kebudayaan adalah bagaimana seorang individu itu menerapkan dan mengembangkan kebudayaan yang ia anut.
Dari pengaruh-pengaruh di atas, dapat kita simpulkan bahwa unsur-unsur budaya sebagai pembentuk budaya sangat berpengaruh dalam kehidupan sebuah masyarakat, karena unsur-unsur budaya akan tetap dipakai dalam kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya: bahasa, kesenian, dan lain sebagainya.
Meskipun begitu akan terjadi pergeseran-pergeseran dalam kebudayaan. Misalnya pada teknologi dan mata pencaharian, namun konsep dasar dari sebuah budaya akan sulit sekali untuk dihilangkan.

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan di atas, dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Kebudayaan merupakan hasil dari akal budi
2. Kebudayaan mencakup semua aspek kehidupan
3. Wujud kebudayaan ada tiga, yaitu:gagasan, aktivitas dan artefak
4. Unsur-unsur kebudayaan adalah: sistem religi dan upacara kebudayaan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup, sistem teknologi dan alat, bahasa dan kesenian.
5. Pengaruh kebudayaan terhadap kehidupan masyarakat sangat besar.

3.2 Saran
1. Jagalah budaya yang merupakan warisan dari pendahulu kita.
2. Jangan malu mengakui kita dari mana, tapi malu bila lita tidak punya sumbangsih untuk tempat kita.

DAFATAR PUSTAKA


1. Supartono W. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Bogor: Ghalia Indonesia.

2. Marah, Rafael Raga. 2000. Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta

3.

Senin, 12 Januari 2009

Psikologi Belajar_Mastery Learning

BELAJAR TUNTAS

BELAJAR TUNTAS

(MasteryLearning)


Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah

Ilmu Jiwa Belajar


Dosen Pembimbing:

Drs. Mu'adz Djamili


Disusun oleh:

Luluk Rahayu

Semester V-B















SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"

(STAIM)

NGLAWAK-KERTOSONO

Januari, 2009

BAB I

PENDAHULUAN



  1. LATAR BELAKANG

Dalam suatu lingkup pendidikan diperlukan suatu proses belajar mengajar yang yang sangat efektif karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar siswa. Dalam hal ini siswa dituntut untuk menguasai 3 aspek dalam belajar yakni psikomotor, afektif, dan kognitif. Di sisi lain siswa juga diharapkan mampu menguasai semua materi pelajaran yang diberikan oleh guru, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan seorang guru ikut terlibat di dalam mengantarkan anak didiknya menuju kesuksesan. Di era sekarang ini telah ditrepkan "Mastery Learning" untuk belajar tuntas. Tujuan diadakannya sistem pembelajaran tuntas tersebut diharapkan terciptanya suatu tujuan pendidikan. Oleh sebab itu makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang belajar tuntas "Mastery Learning".



  1. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:

    1. Apakah pengertian dari belajar tuntas (Mastery learning)?

    2. Apakah prinsip dari belajar tuntas itu?

    3. Apakah tujuan dari belajar tuntas itu?

    4. Apakah dampak psikologis terhadap peserta didik?



  1. TUJUAN PEMBAHASAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dibuat sebuah tujuan pembahasan, yakni:

  1. Dapat mengetahui pengertian dari belajar tuntas

  2. Dapat mengetahui prinsip-prinsip dari belajar tuntas

  3. Dapat mengetahui tujuan dari belajar tuntas

  4. Dapat mendeskripsikan dampak psikologis terhadap peserta didik

BAB II

PEMBAHASAN



  1. PENGERTIAN BELAJAR TUNTAS (MASTERY LEARNING)

Konsep belajar tuntas atau Mastery Learning berasal dari para behaviorist, walaupun juga diterapkan pada praktek pengajaran yang bertolak dari kosep belajar yang lain. Walaupun tidak menggunakan kata tuntas, sesungguhnya konsep belajar di luar behaviorisme juga diharapkan hal ini, tetapi para behavior ssecara sistematik dan konsekuen merencanakan mempratekkan pengajaran untuk belajar tuntas.

Belajar tuntas adalah suatu upaya belajar dimana siswa dituntut untuk menguasai hampir seluruh bahan ajaran. Karena menguasai 100 % bahan ajar sangat sukar, maka yang dijadikan ukuran biasanya trinital menguasai 80 % tujuan yang harus dicapai.

Tokoh belajar tuntas yang utama adalah Benyamin S, Bloom Fred S. Keller dan James H. Block.


  1. PRINSIP-PRINSIP BELAJAR TUNTAS

Para pengembang konseb belajar tuntas mendasarkan pengembangan pengajarannya pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

        1. Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan. Menurut konsep di luar belajar tuntas, penyebaran siswa dalam kelas mengikuti kurva normal, yaitu sebagian kecil siswa (sekitar 17%) menguasai sebagian kecil bahan ajaran, sebagiam besar siswa (sekitar 66%) menguasai sebagian besar bahan, dan sebagian kecil lagi siswa (sekitar 17%) menguasai hampir seluruh bahan, menjadi tugas guru untuk merancang pengajarannya sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai hampir seluruh bahan ajaran

        2. Guru menyusun strategi pengajaran tuntan mulai dengan merumuskan tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa. Guru juga menetapakan tingkat penguasaan yang harus dicapai siswa.

        3. Sejalan dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar menjadi satuan-satuan bahan ajaran yang kecil yang medukung pencapaian sekelompok tujuan tersebut. Berdasarkan tingkat penguasaan siswa dalam satuan pelajaran tersebut, maka dapat pindah dari satu satuan pelajaran ke satuan berikutnya.

        4. selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik.

        5. Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi menggunakan acuan patokan. Acuan norma menggunakan pegangan penguasaan rata-rata kelas, jadi bersifat relatif, sedang acuan patokan berpegang pada sesuatu yang telah ditetapkan, umpamanya menguasai 80% atau 85% dari tujuan belajar.

        6. Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual. Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yaitu siswa yang pandai atau cepat belajar bisa maju lebih dahulu pada satuan pelajaran berikutnya, sedang siswa yang lambat dapat menggunakan waktu lebih banyak atau lama sampai menguasai secara tuntas bahan yang diberikan.

Konsep belajar tuntas adalah dapat dilaksanakan dengan beberapa model pengajaran, tetapi yang paling tepat adalah dengan model-model sistem instruksional seperti pengajaran berprogram, pengajaran modul, paket belajar, model satuan pelajaran, pengajaran dengan bantuan komputer dan sejenisnya. Model-model pengajaran tersebut cocok untuk menerapkan konsep belajar tuntas, karena memiliki dasar-dasar pemikiran yang sesuai. Bertolak dari konsep behaviorisme, berpegang pada model pengajaran sebagai sistem atau sistem instruksional. Yang paling penting adalah dapat diselenggarakan secara individual, sehingga hampir seluruh prinsip belajar tuntas yang disebutkan di atas dapat dilaksanakan.


  1. TUJUAN BELAJAR TUNTAS

Tujuan proses mengajar- belajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh murid. Ini disebut "mastery learning" agar belajar tuntas, artinya penguasaan penuh. Cita-cita ini hanya dapat dijadikan tujuan apabila guru meninggalkan kurva normal sebagai patokan keberhasilan mengajar. KPPN atau komisi pembaharuan pendidikan nasional mengemukakan agar pendidikan kita bersifat semesta, menyeluruh,dan terpadu, semesta berarti bahwa pendidikan dinikmati oleh seluruh warga negara, menyeluruh maksudnya agar ada mobilitis antara lain antara pendidikan formal dan nonformal, sehingga terbuka pendidikan seumur hidup bagi seluruh warga negara.

Memberi kesempatan belajar saja belum memadai bila jumlah yang tinggal kelas dan putus sekolah makin tinggi, masih perlu dipikirkan jalan agar setiap murid mendapat bimbingan agar berhasil menyelesaikan pelajarannya dengan baik, jadi masalah yang sangat penting kita hadapi adalah bagaimana usaha agar sebagian besar dari murid-murid dapat belajar dengan efektif dan menguasai bahan pelajaran dan keterampilan yang dianggap esensial bagi perkembangannya. Selanjutnya dalam masyarakat yang kian hari kian kompleks. Bila kita ingin agar seseorang mau belajar terus sepamjang hidupnya, maka pelajaran di sekolah harus merupakan pengalaman yang menyenangkan baginya. Dan dalam angja-angka yang baik hanya diberikan kepada sejumlah kecil saja dari murid-murid, maka sebagian besar yang mendapat angka rendah dan mengalami frustasi, akan berhenti belajar dan tidak mengembangkan bakat yang dapat disumbangkannya kepada masyarakat. Bila kita dapat membimbing anak-anak sehingga semua, atua hampir semua berhasil, maka ini akan membawa keuntungan besar bagi murid, orang tua maupun negara.

Menurut penelitian, bila semua anak yang bermacam-macam bakatnya itu diberi pengajaran yang sama, maka hasilnya akan berbeda menurut bakat mereka. Ada korelasi yang cukup tinggi antara bakat dengan hasil belajar, akan tetapi jika diberi metode pengajaran yang lebih bermutu yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak serta waktu belajar yang lebih banyak, maka dapat dicapai keberhasilan penuh bagi setiap anak dalam tiap bidang studi. Maka korelasi antara bakat dan tingkat keberhasilan anak dalam pengajaran dapat dilenyapkan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan penuh, yakni:

        1. Bakat untuk mempelajari sesuatu

Bakat misalnya intelegensi, mempengaruhi prestasi belajar

"John Carroll" mengemukakan pendirian yang radikal. Ia mengakui adanya perbedaan bakat, akan tetapi ia memandang bakat tidak menentukan tingkat penguasaan atau untuk menguasai sesuatu. Jadi setiap orang dapat mempelajari bidang studi apapun sehingga batas yang tinggi asal diberi waktu yang cukup disamping syarat-syarat lain. Ada kemungkinan seorang murid menguasai bahan matematika tertentu dalam waktu satu semester, sedangkan murid lain hanya dapat menguasainya dalam beberapa tahun, namun tingkat penguasaannya sama.

        1. Mutu pengajaran

Sejak pestalozzi pengajaran klasikal menjadi populer sebagai pengganti pengajaran individual dari seorang tutor, pengajaran klasikal merupakan keharusan dalam menghadapi jumlah murid yang membanjiri sekolah sebagai akibat demokrasi, industrialisasi, pemerataan pendidikan atau kewajiban belajar. Buku pelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah pusat sama bagi semua dan bila diizinkan buku-buku lain maka dasarnya adalah dari pemerintah pusat, yakni kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah walaupun pengajaran klasikal sekarang sangat umum dijalankan ini tidak berarti bahwa perbedaan individual dapat diabaikan. Justru karena pengajaran kita bersifat lebih klasikal harus lebih diperhatikan perbedaan individual, atau dengan perkataan lain dengan adanya pengajaran klasikal guru harus dengan sengaja memaksa dirinya memberi perhatian kapada setiap anak secara individual.

        1. Kesanggupan untuk memahami pengajaran

Kalau murid tidak dapat memahami apa yang daktakan guru, atau bila guru tidak dapat berkomunikasi dengan murid, maka besar kemungkinan murid tidak dapat menguasai mata pelajaran yang diajarkan. Kemampuan murid untuk menguasai suatu bidang studi biasanya bergantung pada kemampuannya untuk memahami ucapan guru. Sebaliknya guru yang tidak sanggup menyatakan buah pikirannya dengan jelas sehingga ia difahami oleh murid, juga tidak dapat mencapai penguasaan penuh oleh murid atas bahan pelajaran yang disampiakannya.

        1. Ketekunan

Ketekunan belajar ini tampaknya bertalian dengan sikap dan minat terhadap pelajaran. Bila suatu pelajaran karena suatu hal tidak menarik minatnya, maka ia segera mengenyampingkannya bila menemui kesulitan. Ketekunan itu nyata dari jumlah waktu yang diberikan oleh murid untuk belajar sesuatu memerlukan jumlah waktu tertentu.

        1. Waktu yang tersedia untuk belajar

Bahwa faktor waktu sangat esensial untuk menguasai bahan pelajaran tertentu sepenuhnya. Dengan mengizinkan waktu secukupnya setiap murid dapat menguasai bahan pelajaran, jika waktunya sama bagi semua murid, maka tingkat penguasaan ditentukan oleh bakat muridnya.


  1. DAMPAK PSIKOLOGIS TERHADAP PESERTA DIDIK

Menurut Bloom beberapa implikasi belajar tuntas dapat disebutkan sebagai berikut:

Dengan kondisi optimal, sebagian besar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara tuntas (mastery learning). Tugag guru adalah mengusahakan setipa kemungkinan untuk menciptakan kondisi yang optimal, meliputi waktu, metode, media, dan umpan yang baik bagi siswa. Yang dihadapi guru adalah siswa-siswi yang mempunya aneka ragam individual. Karena itu kondisi optimal mereka juga beraneka ragam. Perumusan tujuan instruksional khusus sebagai satuan pelajaran mutlak diperhatikan, agar para siswa mengerti hakikat tujuan proses belajar. Cara yang paling efektif untuk diterapkannya belajar tuntas adalah adanya "tutor" untuk setiap anak yang dapat memberi bantuan menurut kebutuhan anak.

Cara lain adalah dengan menghapus batas-batas kelas seperti dilakukan pada apa yang disebut "Non Graded School", yaitu sekolah tanpa tingkat kelas. Sistem ini memungkinkan anak untuk maju menurut kecepatan masing-masing. Sistem Dalton oleh Miss Helen Parkhurst juga memiliki kebebasan belajar sesuai dengan kecepatan tiap murid secara individual.

Jadi dalam usaha untuk mencapai penguasaan penuh, atau "masteri learning" perlu diselidiki prasyarat bagi penguasaan itu, selanjutnya diusahakan metode penyampaian atau proses mengajar – belajar yang serasi dan akhirnya perlu dinilai hasil usaha, hingga manakah usaha ini dapat dilakukan.

Salah satu prasyarat untuk penguasaan penuh atau tuntas adalah merumuskan secara khusus bahan yang harus dikuasai, prasyarat kedua adalah bahwa tujuan itu harus dituangkan dalam suatu alat evaluasi yang bersifat "sumatif" agar dapat diketahui tingkat keberhasilan murid. Dengan cara mengajar yang biasa guru tidak akan mencapai penguasaan tuntas oleh murid, usaha guru itu harus dibantu dengan kegiatan tambahan yang terutama terdiri atas:

    1. "feed back" atau umoan balik ygterperinci kepada guru atau murid

    2. Sumber dan metode-metode pengajaran tambahan dimana saja diperlukan

Feed back diberikan malalui test-test formatif. Mula-mula bahan-bahan pelajaran dibagikan satuan pelajaran. Suatu satuanpelajaran misalnya meliputi bahan pelajran satu bab atau bahan yang dapat dikuasai dalam waktu satu atau dua minggu. Test formatif itu bersifat diagnotis dan serentak menunjukkan kemajuan dan keberhasilan anak. Selain itu dapat diberikan bantuan tutorial yaitu bantuan pribadi dari seorang guru atau sebaliknya orang lain.

Cara-cara ini adalah:

  1. Menyuruh murid membaca kembali dengan cermat halaman-halaman bagian tertentu yang berkenaan dengan kesalahan murid itu.

  2. Menyuruh murid untuk membaca bagian tertentu dari buku lain yang berbeda cara penyajiannya.

Dengan diterapkannya "mastery learning" justru mengembangkan minat dan sikap positif terhadap pelajaran dan ilmu yang memberi harapan bahwa anak itu kelak akan terus belajar sepanjang umurnya agar dapat bertahan dalam dunia yang serba cepat umurnya, agar dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubah ini dan agar dapat senantiasa mengikuti perkembangan dunia tempat ia hidup.

BAB III

PENUTUP



  1. KESIMPULAN

    1. Belajar tuntas (mastery learning) adalah belajar mengajar yang bertujuan agar bahan ajaran yang dikuasai secara tuntas (suatu upaya belajar dimana siswa dituntut menguasai hampir seluruh bahan ajaran).

    2. Prinsip-prinsip dari belajar tuntas yaitu:

      1. Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian besar bahan yang diajarkan.

      2. Guru menyusun strategi pelajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendaknya dikuasai oleh siswa.

      3. Sejalan dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar satuan-satuan bahan ajar yang kecil yang mendukung sekelompok tujuan khusus tersebut.

    3. Tujuan proses belajar-mengajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh murid, ini disebut "mastery learning" atau belajar tuntas, artinya penguasaan penuh.

    4. Belajar tuntas "mastery learning" justru mengembangkan minat dan sikap positif terhadap pelajaran dan ilmu yang memberi harapan bahwa anak itu kelak akan terus belajar sepanjang umurnya agar dapat bertahan dalam dunia yang serba cepat umurnya, agar dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubah ini dan agar dapat senantiasa mengikuti perkembangan dunia tempat ia hidup .

DAFTAR PUSTAKA



  1. Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. PT. Remaja Rosdakarya: Jakarta.


  1. Ahmadi, Abu, dkk. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia


  1. Mansyur. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Ditjen Pembinaan dan Kelembagaan Agama Islam.


  1. Http://andeieirfan.multiply.com/journal/item/5/model_mastery_learning.