WELCOME TO OUR KNOWLEDGE
Koleksi makalah untuk temen-temen S1 Jurusan Tarbiyah beserta tulisan-tulisan menarik lain
Senin, 02 Februari 2009
Dua Materialisme Filsafat
DUNIA FILSAFAT
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Ilmu Pengantar Filsafat Umum
Disusun oleh:
Wahyu Irvana
Semester I-B
Dosen Pembimbing:
Drs. Amiruddin, M.Pd
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"
(STAIM)
JURUSAN TARBIYAH PRODI S-1 PAI
NGLAWAK-KERTOSONO
Pebruari, 2009
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akal merupakan kelebihan yang dimiliki manusia dari mahluk lain. Dari akal pula muncul berbagai ilmu pengetahuan, karena pemikiran yang dilakukan akal bersumber pula dari ilmu-ilmu yang telah ada. Dan dengan kemampuan rasio pula manusia dapat menjangkau jauh dari sesuatu yang hanya terlihat (empiris), sesuatu di luar indera dan menemukan sebuah kebenaran filsafat.
Dengan tingkat pemahaman manusia yang beragam menyebabkan perbedaaan pendapat tentang kebenaran yang di anut. Dan hal ini menimbulkan berbagi aliran dalam dunia filsafat, salah satunya adalah filsafat materialisme yang lebih menekankan pada kenyataan dan empirisme. Maka dalam makalah ini akan dibahas aliran yang sarat dengan hal nyata, namun kita harus tahu bagaimanakah filsafat, dan makalah ini akan menjawabnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:
1. Apa pengertian dari filsafat?
2. Apa saja objek filsafat?
3. Apa pengertian dari filsafat aliran materialisme?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari filsafat.
2. Untuk mengetahui objek dari filsafat.
3. Untuk mengetahui pengertian dari filsafat aliran materialisme.
BAB II
DUA MATERIALISME DALAM DUNIA FILSAFAT
A. FILSAFAT
1. Pengertian Filsafat
Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang juga diambil dari bahasa Yunani philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf".
Adapun pengertian filsafat menurut para ahli adalah:
a) Plato
Filsafat adalah pengertian segala sesuatu yag ada da ilmu yang berminat mencapai kebenaran asli.
b) Aristoteles
Filsafat adalah ilmu yang terkandung dalam metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
c) Marcus Tulius Cecero
Filsafat adalah ilmu pengetahuan sesuatu Yang Maha Agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
d) Al Farabi
Filsafat adalah ilmu tentang alam maujud dan hakikat yang sebenarnya.
e) Immanuel Kant
Filsafat adalah ilmu yang meliputi 4 persoalan, yaitu: apa yang dapat anda ketahui (metafisika), apa yang boleh kita kerjakan (fisika/logika), apa manusia itu (antropologi), dan sampai mana pengharapan kita (agama).
Dari sini dapat kita ketahui bahwa filsafat adalah segala upaya untuk mencapai kebenaran yang hakiki.
2. Tujuan Filsafat
Tujuan dasar dari filsafat adalah mencapai kebenaran sesuatu yang hakiki, baik berupa logika, metafisika, maupun etika. Namun para ahli berpendapat tentang tujuan filsafat sebagai berikut:
a) Sutan Takdir Alisyahbana
Filsafat bertujuan memberi ketenangan jiwa, fikiran dan hati sekalipun menghadapi maut.
b) Hussein
Filsafat adalah ilmu yang memberi kita hikmah dan kepuasan, sedangkan ilmu pengetahuan memberi kita pengetahuan.
c) Titus
Filsafat adalah tujuan mempelajari alam semesta, makna dan tujuannya.
3. Obyek Filsafat
Obyek yang dikaji dalam filsafat meliputi:
a. Umum, yakni menyelidiki segala sesuatu yang ada, disebut pula ontologi.
b. Mutlak, yakni dzat yang harus ada dan mutlak serta tidak tergantung pada apa dan siapa, tidak berpermulaan dan berpenghabisan, disebut pula TUHAN.
c. Kosmologi (jagat raya), yakni mencari hakikat alam semesta dan hubungannya dengan Yang Mutlak.
d. Antropologi (filsafat manusia), yakni mempelajari segala hal yang berkaitan dengan manusia.
e. Etika (tingkah laku manusia), yakni mempelajari tingkah laku manusia yang dipandang baik maupun buruk.
f. Logika, yakni menggunakan akal atau logis sebagai alat mencari kebenaran.
B. MATERIALISME
1. Pengertian Materialisme
Materialisme merupakan salah satu aliran dalam dunia filsafat. Materialisme adalah aliran yang memandang bahwa segala sesuatu adalah relitas, dan realitas seluruhnya adalah materi belaka. Kenyataan bersifat material dipandang bahwa segala sesuatu yang hendak dikatakannya adalah berasal dari materi dan berakhir dengan materi atau berasal dari gejala yang bersangkutan dengan materi.
Berbicara materialisme, berarti kita memasuki kajian ontologis di dalam kerangka sistematika filsafat yang mana tujuannya adalah mencari hakikat dari segala yang ada dan yang mungkin ada dari segala sesuatu.
Menurut materialisme, hakikat dari segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada adalah materi. Roh, jiwa, spirit dan sebagainya (yakni alam immateril) muncul dari materi. Rohani dan kawan-kawannya itu tidak akan ada seandainya tidak ada materi, termasuk di sini Tuhan yang jelas-jelas tampak tingkat abstraksinya. Adpun dasar pemikiran kaum materialis adalah:
1. Bersifat Empirisme dan Rasionalisme, yakni memahami segala sesuatu atas dasar akal dan indera saja.
2. Bersifat Naturalisme, yakni semua adalah alamiah.
3. Alam merupakan semesta yang bersifat abadi dan sebagai keseluruhan tidak terarah secara lurus kepada satu tujuan tertentu.
4. Jiwa merupakan gejala dari materi.
5. Semua perubahan yang terjadi bersifat kepastian semata.
6. Substansi-substansi materi merupakan penyusun utama sebuah materi dalam hal ini adalah atom.
2. Dua Materialisme Dalam Dunia Filsafat
a. Materialisme Metafisis atau Mekanistis(Ludwig Feurbach)
Ludwig Andreas Feurbach (1804-1872) lahir di Bavaria, Jerman dalam keluarga pengacara, akademisi dan orang-orang beriman yang pintar-pintar. Dalam objek yang ia kontemplasikan, manusia menjadi mengenal dirinya. Kesadaran tentang objek adalah kesadaran diri manusia. Objek adalah manifestasi hakikat manusia sehingga di dalamnya hakikat manusia menjadi gamblang. Kekuatan objek atasnya merupakan kekuatan hakikatnya sendiri. Kekuatan objek dari perasaan, intelek, dan kehendak adalah kekuatan perasaan, intelek dan kehendak itu sendiri.
Aliran ini berpendapat bahwa alam adalah unsur yang terbentuk dari atom materi yang berada sendiri dan bergerak. Aliran ini juga menggunakan energisme, yakni mengembalikan segala bentuk sesuatu pada energi. Mereka juga berpendapat bahwa manusia sama halnya seperti kayu dan batu. Tapi di sini bukan mereka berpendapat bawa manusia sama dengan kayu dan batu, namun pada akhirnya senua adalah materi, hanya materi. Dalam perkembangannya aliran ini dibagi dua periode yakni materialisme lama dan materialisme modern.
Aliran ini juga berpendapat bahwa alam (universe) merupakan kesatuan material yang tak terbatas. Alam, termasuk di dalamnya segala materi dan energi selalu ada dan akan tetap ada. Dan alam (world) adalah realitas yang keras, dapat disentuh, material, objektif, yang dapat diketahui manusia. Materialisme juga mengatakan bahwa jiwa (self) ada setelah materi, jadi psikis manusia merupakan salah satu gejala dari materi yang ada.
b. Materialisme Dialektis atau Historis (Karl Marx)
Materialisme aliran ini adalah aliran atau ajaran dari Karl Marx dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di kota Treir daerah Rheen, Prusia, Jerman. Ayahnya adalah seorang pengacara yang berada. Ia adalah keturunan Yahudi yang akhirnya sewaktu masih kecil beserta dengan keluarganya, mereka di baptis menjadi penganut agama Kristen Protestan. Sehingga aliran ini juga sering disebut dengan aliran Marxisme. Adapun pokok-pokok ajaran aliran ini adalah:
1. Teori materialisme historis.
2. Perjuangan kelas (class struggle)
3. Teori nilai dan teori lebih
Adapun disebut dengan Materialisme Historis, karena menurut teorinya arah yang ditempuh oleh sejarah sama sekali ditentukan oleh perkembangan sarana-sarana produksi yang materiil. Marx berkeyakinan bahwa arah sejarah manusia akan manuju pada satu arah yakni komunisme. Dengan kata lain segala kepemilikan pribadi akan diganti dengan kepemilikan bersama. Fase sejarah seperti ini mutlak terjadi, oleh karena itu perjuangan kelas adalah hal utama yang perlu dilakukan.
Sedangkan yang dimaksud dengan aliran Materialisme Dialektik adalah falsafah karl marx bahwa keadaan peristiwa kehidupan akan berubah, seperti layaknya benih pohon yang akan berusaha berubah wujud menjadi pohon. Dalam hal ini marx mengemukakan teori Tese, Antitese, dan Sintese. Tese adalah keadaan awal, dimana manusia hidup pada komunitas asli tanpa pertentangan kelas. Lalu antitese, diman mulai muncul kelas kaum kapitalis dan kaum proletar, maka timbul krisis yang hebat dimana pada akhirnya kaum proletar bersatu untuk mengadakan revolusi. Selanjutnya terjadilah masyarakat tanpa kelas, dimana produksi menjadi hak milik bersama atau negara dan fase inilah yang disebut sintese..
Jadi, dengan dijadikannya dialektika sebagai metode untuk memahami alam dan menempatkan ide materialistisnya dalam kerangka metode itu, maka secara otomatis Mark menolak prinsip-prinsip non kontradiksi dan alam-alam di luar materi.
Namun Karl marx dalam sebuah karyanya menolak dikatakan orang materialis freuerbach, dia lebih mengarahkan teorimya pada kesejahteraan manusia dari segi ekonomi, diman dalam hal ini adalah penolakan terhadap kaum kapitalis dan penyetaraan hak-hak kaum proletar (buruh) yang pada akhirnya menciptakan sebuah gagasa komunisme. Jadi menurutnya hal ini bukan hanya teori belaka namun lebih pada pengaplikasian fakta kehidupan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Filsafat adalah segala upaya untuk mencapai hakikat sesungguhnya.
2. Tujuan filsafat adalah mencapai hakikat kebenaran dari sesuatu baik logika, metafisika ataupun estetika.
3. Obyek filsafat adalah umum, mutlak, kosmologi, antropologi, etika, dan logika.
4. Materialisme dibagi menjadi dua, yakni materialisme mekanik (Freuerbach) dan materialisme historik (Marx).
B. Saran
1. Filsafat berdasar rasio, jadi sebaiknya memilih filsafat yang berdasar rasio kita, namun jangan pernah takut untuk berfilsafat.
2. Filsafat sebaiknya diiringi oleh agama, yang merupakan kebenaran tertinggi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana.
2. Syadali, Ahmad, 2006. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia.
3. Praja, Juhaya S. 2005. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Bumi putera.
4. Tafsir, Ahmad. 1997. Filsafat Umum. Bandung:Rosda Karya, Cet.V.
5. Lavine, TZ. 2003. Marx, Konflik Kelas dan Orang yang Terasing. Yogyakarta: Jendela.
6. http://artikeldaniklanbarisgratis.blogspot.com/2008/10/materialisme-metafisis-dan-dialektis.html
Kamis, 15 Januari 2009
Unsur-Unsur Budaya
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Ilmu Sosial Dasar
Disusun oleh:
Wahyu Irvana
Semester I-B
Dosen Pembimbing:
Drs. HM. Muadz Jamili, M.Pd.I
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"
(STAIM)
JURUSAN TARBIYAH PRODI S-1 PAI
NGLAWAK-KERTOSONO
Januari, 2009
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebudayaan merupakan faktor penting dalam kehikdupan manusia. Sebab kebudayaan memberikan arah kepada tindakan dan karya manusia. Kebudayaan yang telah ada akan tetap berjalan meski kadang-kadang wujudnya dapat berubah. Kebudayaan bukan hanya kesenian dan benda-benda budaya, akan tetapi mencakup seluruh sendi kehidupan manusia untuk menciptakan sebuah tatanan yang diharapkan. Unsur-unsur yang mempengaruhi keberadaan budaya akan terus memberikan arah bagaimana wujud dari kebudayaan itu untuk masa yang akan datang, maka dalam makalah ini akan dibahas tentang unsur-unsur kebudayaan tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:
1. Apa definisi dari kebudayaan?
2. Apa saja wujud dari kebudayaan kebudayan?
3. Apa saja unsur-unsur dari kebudayaan?
4. Apa pengaruh kebudayaan terhadap kehidupan bermasyarakat?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari kebudayaan.
2. Untuk mengetahui wujud kebudayaan.
3. Untuk mengetahui unsur-unsur kebudayaan.
4. Untuk mengetahui pengaruh unsur-unsur kebudayaan terhadap kehidupan bermasyarakat.
BAB II
UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
2.1 Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan atau disebut pula peradaban menurut Taylor mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suaut bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat.
Berbeda dengan Selo Soemarjan dan Soelaeman Sumardi yang mengemukakan definisi praktis dari kebudayaan, menurutnya kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari hasil penyelidikan para ahli, bahwa munculnya kebudayaan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
1. Anggapan bahwa adanya pemikiran atau perbuatan manusia
2. Anggapan bahwa tingkat kebudayaan atau peradaban sebagi akibat taraf perkembangan dan hasil evaluasi masing-masing sejarahnya.
Walaupun demikian menurut Kluckhon hampir semua antropolog Amerika setuju dengan teori proporsi yang diajukan Herkovits yaitu:
a) Kebudayaan dapat dipelajari
b) Kebudayaan berasal dari sumber segi biologis, lingkungan, psikologis, dan komponen sejarah eksistensi manusia.
c) Kebudayaan mempunyai struktur
d) Kebudayaan dapat dipecah-pecah ke dalam berbagai aspek
e) Kebudayaan bersifat dinamis
f) Kebudayaan memperlihatkan keteraturan yang dapat dianalisis secara ilmiah
g) Kebudayaan merupakan alat bagi seseorang untuk mengatur keadaan totalnya dan menambah arti bagi kesan kreatifnya.
Sebenarnya kebudayaan bila dilihat dari segi bahasa, menurut Koentjaraningrat berasal dari bahasa Sanskerta yakni buddhayah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.
Jadi budaya merupakan konsep yang dikemukakan akal untuk mengatur kehidupan manusia, dalam hal ini lebih ditekankan pada segi estetika pada tujuan akhirnya.
2.2 Wujud Kebudayaan
Wujud kebudayaan merupakan bentuk yang dihasilkan oleh pemikiran kebudayaan. Adapun wujud kebudayaan menurut J.J. Hoenigman, ada tiga wujud kebudayaan, yakni:
1. Gagasan
Yaitu wujud kebudayaan yang berupa gagasan, ide, nilai, norma, peraturan, dan lain sebagainya. Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba, disentuh dan bukan barang yang nyata. Jika gagasan ini dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan tersebut berada dalam karangan-karangan atau tulisan-tulisan. Misalnya: kitab kuno, prasati dan lain sebagainya.
2. Aktivitas
Yaitu tindakan atau aktivitas manusia yang berasal dari pemikiran kebudayaan. Wujud kedua ini sering disebut dengan sistem sosial, terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang sering berinteraksi. Sifatnya nyata, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, dapat diamati dan didokumentasikan. Misalnya: sistem adat, sitem kemasyarakatan dan lain sebagainya.
3. Artefak
Yaitu wujud fisik berupa hasil aktivitas atau karya manusia dalam masyarakat yang berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, didokumentasikan serta sifatnya wujud konkret. Misalnya: Patung, bangunan dan lain sebagainya
2.3 Unsur-Unsur Kebudayaan
Unsur-unsur kebudayaan merupakan bagian suatu kebudayaan yang dapat digunakan sebagai suatu analisis tertentu.
Menurut Kluchklon ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu:
1. Sistem religi dan upacara keagamaan
Merupakan produk manusia untuk membujuk kekuatan lain yang berada di atasnya, yaitu Yang Maha Besar untuk menuruti kemauan mereka.
2. Sistem organisasi kemasyarakatan.
Merupakan usaha manusia untuk menutupi kelemahan individu mereka dan meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
3. Sistem pengetahuan
Merupakan kemampuan manusia untuk mengetahui, mengingat, kemudian mengolah dan menyampaikannya pada orang lain.
4. Sistem mata pencaharian hidup
Merupakan usaha manusia untuk mencukupi kebutuhan jasmaninya, untuk dapat bertahan hidup.
5. Sistem teknologi dan peralatan
Merupakan hasil olah pikir manusia untuk mempermudah dalam mengjakan atau mengetahui segala sesuatunya sehingga manusia dapat menciptakan atau menggunakan alat tersebut.
6. Bahasa
Bahasa merupakan segala sesuatu usaha manusia untuk dapat berkomunikasi. Bahasa dapat berupa simbol, tanda, gambar, maupun berupa lisan dan tulisan. Menurut Lyons bahasa merupakan seperangkat simbol dan tata aturan untuk menggunakan simbol-simbol dalam kombinasi-kombinasi yang penuh arti. Jadi bahasa dapat berupa apa saja asalkan memiliki arti untuk berkomunikasi.
7. Kesenian
Merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan psikisnya, dalam hal ini tentunya mengarah pada sebuah tujuan akhir, yaitu estetika (keindahan). Dengan kesenian manusia dapat mencurahkan segala kemampuannya untuk memenuhi apa yang mereka angap pantas dan indah.
Namun ada beberapa ahli yang mengemukakan unsur-unsur kebudayaan yang lain, diantaranya Meville J. Hertkovits yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuasaan politik. Broinslaw Mlinowski juga mengemukakan unsur-unsur budaya yang berupa sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga pendidikan dan organisasi kekuatan.
2.4 Pengaruh Unsur-Unsur Kebudayaan terhadap Kehidupan Masyarakat
Unsur-unsur kebudayaan merupakan bagian dari kebudayaan yang digunakan. Raph Linton mengemukakan bahwa kebudayaan merupakan warisan sosial dari anggota masyarakat. Pengaruh unsur-unsur kebudayaan terhadap kehidupan masyarakat adalah:
1. Goodman dan Marx melihat kebudayaan sebagai warisan yang dipelajari dan ditranmisikan, jadi kebudayaan dalam hal ini berpengaruh terhadap perkembangan generasi-generasi berikutnya. Misalnya: bahasa dari sebuah suku akan terus dipakai oleh generasi yang akan datang pada suku tersebut.
2. M.J. Herskovits, bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang superorganic, yakni individu yang tinggal pada tempat budaya tersebut secara langsung atau tidak langsung akan memiliki dan menjadi anggota dari kebudayaan tersebut. Misalnya:seseorang yang tinggal di sebuah suku, maka secara otomatis akan menjadi putra suku tersebut.
3. Theodore M. Newcom, bahwa kepribadian menunjuk pada organisasi sikap-sikap seseorang untuk berbuat, mengetahui, berpikir, dan merasakan secara khusus. Jadi Newcomb menganggap kebudayaan lebih ke arah keindividuan sebagai salah satu kreator dari kebudayaan. Disini pengaruh kebudayaan adalah bagaimana seorang individu itu menerapkan dan mengembangkan kebudayaan yang ia anut.
Dari pengaruh-pengaruh di atas, dapat kita simpulkan bahwa unsur-unsur budaya sebagai pembentuk budaya sangat berpengaruh dalam kehidupan sebuah masyarakat, karena unsur-unsur budaya akan tetap dipakai dalam kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya: bahasa, kesenian, dan lain sebagainya.
Meskipun begitu akan terjadi pergeseran-pergeseran dalam kebudayaan. Misalnya pada teknologi dan mata pencaharian, namun konsep dasar dari sebuah budaya akan sulit sekali untuk dihilangkan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan di atas, dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Kebudayaan merupakan hasil dari akal budi
2. Kebudayaan mencakup semua aspek kehidupan
3. Wujud kebudayaan ada tiga, yaitu:gagasan, aktivitas dan artefak
4. Unsur-unsur kebudayaan adalah: sistem religi dan upacara kebudayaan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup, sistem teknologi dan alat, bahasa dan kesenian.
5. Pengaruh kebudayaan terhadap kehidupan masyarakat sangat besar.
3.2 Saran
1. Jagalah budaya yang merupakan warisan dari pendahulu kita.
2. Jangan malu mengakui kita dari mana, tapi malu bila lita tidak punya sumbangsih untuk tempat kita.
DAFATAR PUSTAKA
1. Supartono W. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Bogor: Ghalia Indonesia.
2. Marah, Rafael Raga. 2000. Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta
3.
Senin, 12 Januari 2009
Psikologi Belajar_Mastery Learning
BELAJAR TUNTAS
(MasteryLearning)
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Ilmu Jiwa Belajar
Dosen Pembimbing:
Drs. Mu'adz Djamili
Disusun oleh:
Luluk Rahayu
Semester V-B
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM "MIFTAHUL 'ULA"
(STAIM)
NGLAWAK-KERTOSONO
Januari, 2009
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dalam suatu lingkup pendidikan diperlukan suatu proses belajar mengajar yang yang sangat efektif karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan belajar siswa. Dalam hal ini siswa dituntut untuk menguasai 3 aspek dalam belajar yakni psikomotor, afektif, dan kognitif. Di sisi lain siswa juga diharapkan mampu menguasai semua materi pelajaran yang diberikan oleh guru, dalam hal ini tidak menutup kemungkinan seorang guru ikut terlibat di dalam mengantarkan anak didiknya menuju kesuksesan. Di era sekarang ini telah ditrepkan "Mastery Learning" untuk belajar tuntas. Tujuan diadakannya sistem pembelajaran tuntas tersebut diharapkan terciptanya suatu tujuan pendidikan. Oleh sebab itu makalah ini akan membahas lebih lanjut tentang belajar tuntas "Mastery Learning".
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:
Apakah pengertian dari belajar tuntas (Mastery learning)?
Apakah prinsip dari belajar tuntas itu?
Apakah tujuan dari belajar tuntas itu?
Apakah dampak psikologis terhadap peserta didik?
TUJUAN PEMBAHASAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dibuat sebuah tujuan pembahasan, yakni:
Dapat mengetahui pengertian dari belajar tuntas
Dapat mengetahui prinsip-prinsip dari belajar tuntas
Dapat mengetahui tujuan dari belajar tuntas
Dapat mendeskripsikan dampak psikologis terhadap peserta didik
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN BELAJAR TUNTAS (MASTERY LEARNING)
Konsep belajar tuntas atau Mastery Learning berasal dari para behaviorist, walaupun juga diterapkan pada praktek pengajaran yang bertolak dari kosep belajar yang lain. Walaupun tidak menggunakan kata tuntas, sesungguhnya konsep belajar di luar behaviorisme juga diharapkan hal ini, tetapi para behavior ssecara sistematik dan konsekuen merencanakan mempratekkan pengajaran untuk belajar tuntas.
Belajar tuntas adalah suatu upaya belajar dimana siswa dituntut untuk menguasai hampir seluruh bahan ajaran. Karena menguasai 100 % bahan ajar sangat sukar, maka yang dijadikan ukuran biasanya trinital menguasai 80 % tujuan yang harus dicapai.
Tokoh belajar tuntas yang utama adalah Benyamin S, Bloom Fred S. Keller dan James H. Block.
PRINSIP-PRINSIP BELAJAR TUNTAS
Para pengembang konseb belajar tuntas mendasarkan pengembangan pengajarannya pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan. Menurut konsep di luar belajar tuntas, penyebaran siswa dalam kelas mengikuti kurva normal, yaitu sebagian kecil siswa (sekitar 17%) menguasai sebagian kecil bahan ajaran, sebagiam besar siswa (sekitar 66%) menguasai sebagian besar bahan, dan sebagian kecil lagi siswa (sekitar 17%) menguasai hampir seluruh bahan, menjadi tugas guru untuk merancang pengajarannya sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai hampir seluruh bahan ajaran
Guru menyusun strategi pengajaran tuntan mulai dengan merumuskan tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa. Guru juga menetapakan tingkat penguasaan yang harus dicapai siswa.
Sejalan dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar menjadi satuan-satuan bahan ajaran yang kecil yang medukung pencapaian sekelompok tujuan tersebut. Berdasarkan tingkat penguasaan siswa dalam satuan pelajaran tersebut, maka dapat pindah dari satu satuan pelajaran ke satuan berikutnya.
selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik.
Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi menggunakan acuan patokan. Acuan norma menggunakan pegangan penguasaan rata-rata kelas, jadi bersifat relatif, sedang acuan patokan berpegang pada sesuatu yang telah ditetapkan, umpamanya menguasai 80% atau 85% dari tujuan belajar.
Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual. Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yaitu siswa yang pandai atau cepat belajar bisa maju lebih dahulu pada satuan pelajaran berikutnya, sedang siswa yang lambat dapat menggunakan waktu lebih banyak atau lama sampai menguasai secara tuntas bahan yang diberikan.
Konsep belajar tuntas adalah dapat dilaksanakan dengan beberapa model pengajaran, tetapi yang paling tepat adalah dengan model-model sistem instruksional seperti pengajaran berprogram, pengajaran modul, paket belajar, model satuan pelajaran, pengajaran dengan bantuan komputer dan sejenisnya. Model-model pengajaran tersebut cocok untuk menerapkan konsep belajar tuntas, karena memiliki dasar-dasar pemikiran yang sesuai. Bertolak dari konsep behaviorisme, berpegang pada model pengajaran sebagai sistem atau sistem instruksional. Yang paling penting adalah dapat diselenggarakan secara individual, sehingga hampir seluruh prinsip belajar tuntas yang disebutkan di atas dapat dilaksanakan.
TUJUAN BELAJAR TUNTAS
Tujuan proses mengajar- belajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh murid. Ini disebut "mastery learning" agar belajar tuntas, artinya penguasaan penuh. Cita-cita ini hanya dapat dijadikan tujuan apabila guru meninggalkan kurva normal sebagai patokan keberhasilan mengajar. KPPN atau komisi pembaharuan pendidikan nasional mengemukakan agar pendidikan kita bersifat semesta, menyeluruh,dan terpadu, semesta berarti bahwa pendidikan dinikmati oleh seluruh warga negara, menyeluruh maksudnya agar ada mobilitis antara lain antara pendidikan formal dan nonformal, sehingga terbuka pendidikan seumur hidup bagi seluruh warga negara.
Memberi kesempatan belajar saja belum memadai bila jumlah yang tinggal kelas dan putus sekolah makin tinggi, masih perlu dipikirkan jalan agar setiap murid mendapat bimbingan agar berhasil menyelesaikan pelajarannya dengan baik, jadi masalah yang sangat penting kita hadapi adalah bagaimana usaha agar sebagian besar dari murid-murid dapat belajar dengan efektif dan menguasai bahan pelajaran dan keterampilan yang dianggap esensial bagi perkembangannya. Selanjutnya dalam masyarakat yang kian hari kian kompleks. Bila kita ingin agar seseorang mau belajar terus sepamjang hidupnya, maka pelajaran di sekolah harus merupakan pengalaman yang menyenangkan baginya. Dan dalam angja-angka yang baik hanya diberikan kepada sejumlah kecil saja dari murid-murid, maka sebagian besar yang mendapat angka rendah dan mengalami frustasi, akan berhenti belajar dan tidak mengembangkan bakat yang dapat disumbangkannya kepada masyarakat. Bila kita dapat membimbing anak-anak sehingga semua, atua hampir semua berhasil, maka ini akan membawa keuntungan besar bagi murid, orang tua maupun negara.
Menurut penelitian, bila semua anak yang bermacam-macam bakatnya itu diberi pengajaran yang sama, maka hasilnya akan berbeda menurut bakat mereka. Ada korelasi yang cukup tinggi antara bakat dengan hasil belajar, akan tetapi jika diberi metode pengajaran yang lebih bermutu yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap anak serta waktu belajar yang lebih banyak, maka dapat dicapai keberhasilan penuh bagi setiap anak dalam tiap bidang studi. Maka korelasi antara bakat dan tingkat keberhasilan anak dalam pengajaran dapat dilenyapkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan penuh, yakni:
Bakat untuk mempelajari sesuatu
Bakat misalnya intelegensi, mempengaruhi prestasi belajar
"John Carroll" mengemukakan pendirian yang radikal. Ia mengakui adanya perbedaan bakat, akan tetapi ia memandang bakat tidak menentukan tingkat penguasaan atau untuk menguasai sesuatu. Jadi setiap orang dapat mempelajari bidang studi apapun sehingga batas yang tinggi asal diberi waktu yang cukup disamping syarat-syarat lain. Ada kemungkinan seorang murid menguasai bahan matematika tertentu dalam waktu satu semester, sedangkan murid lain hanya dapat menguasainya dalam beberapa tahun, namun tingkat penguasaannya sama.
Mutu pengajaran
Sejak pestalozzi pengajaran klasikal menjadi populer sebagai pengganti pengajaran individual dari seorang tutor, pengajaran klasikal merupakan keharusan dalam menghadapi jumlah murid yang membanjiri sekolah sebagai akibat demokrasi, industrialisasi, pemerataan pendidikan atau kewajiban belajar. Buku pelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah pusat sama bagi semua dan bila diizinkan buku-buku lain maka dasarnya adalah dari pemerintah pusat, yakni kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah walaupun pengajaran klasikal sekarang sangat umum dijalankan ini tidak berarti bahwa perbedaan individual dapat diabaikan. Justru karena pengajaran kita bersifat lebih klasikal harus lebih diperhatikan perbedaan individual, atau dengan perkataan lain dengan adanya pengajaran klasikal guru harus dengan sengaja memaksa dirinya memberi perhatian kapada setiap anak secara individual.
Kesanggupan untuk memahami pengajaran
Kalau murid tidak dapat memahami apa yang daktakan guru, atau bila guru tidak dapat berkomunikasi dengan murid, maka besar kemungkinan murid tidak dapat menguasai mata pelajaran yang diajarkan. Kemampuan murid untuk menguasai suatu bidang studi biasanya bergantung pada kemampuannya untuk memahami ucapan guru. Sebaliknya guru yang tidak sanggup menyatakan buah pikirannya dengan jelas sehingga ia difahami oleh murid, juga tidak dapat mencapai penguasaan penuh oleh murid atas bahan pelajaran yang disampiakannya.
Ketekunan
Ketekunan belajar ini tampaknya bertalian dengan sikap dan minat terhadap pelajaran. Bila suatu pelajaran karena suatu hal tidak menarik minatnya, maka ia segera mengenyampingkannya bila menemui kesulitan. Ketekunan itu nyata dari jumlah waktu yang diberikan oleh murid untuk belajar sesuatu memerlukan jumlah waktu tertentu.
Waktu yang tersedia untuk belajar
Bahwa faktor waktu sangat esensial untuk menguasai bahan pelajaran tertentu sepenuhnya. Dengan mengizinkan waktu secukupnya setiap murid dapat menguasai bahan pelajaran, jika waktunya sama bagi semua murid, maka tingkat penguasaan ditentukan oleh bakat muridnya.
DAMPAK PSIKOLOGIS TERHADAP PESERTA DIDIK
Menurut Bloom beberapa implikasi belajar tuntas dapat disebutkan sebagai berikut:
Dengan kondisi optimal, sebagian besar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara tuntas (mastery learning). Tugag guru adalah mengusahakan setipa kemungkinan untuk menciptakan kondisi yang optimal, meliputi waktu, metode, media, dan umpan yang baik bagi siswa. Yang dihadapi guru adalah siswa-siswi yang mempunya aneka ragam individual. Karena itu kondisi optimal mereka juga beraneka ragam. Perumusan tujuan instruksional khusus sebagai satuan pelajaran mutlak diperhatikan, agar para siswa mengerti hakikat tujuan proses belajar. Cara yang paling efektif untuk diterapkannya belajar tuntas adalah adanya "tutor" untuk setiap anak yang dapat memberi bantuan menurut kebutuhan anak.
Cara lain adalah dengan menghapus batas-batas kelas seperti dilakukan pada apa yang disebut "Non Graded School", yaitu sekolah tanpa tingkat kelas. Sistem ini memungkinkan anak untuk maju menurut kecepatan masing-masing. Sistem Dalton oleh Miss Helen Parkhurst juga memiliki kebebasan belajar sesuai dengan kecepatan tiap murid secara individual.
Jadi dalam usaha untuk mencapai penguasaan penuh, atau "masteri learning" perlu diselidiki prasyarat bagi penguasaan itu, selanjutnya diusahakan metode penyampaian atau proses mengajar – belajar yang serasi dan akhirnya perlu dinilai hasil usaha, hingga manakah usaha ini dapat dilakukan.
Salah satu prasyarat untuk penguasaan penuh atau tuntas adalah merumuskan secara khusus bahan yang harus dikuasai, prasyarat kedua adalah bahwa tujuan itu harus dituangkan dalam suatu alat evaluasi yang bersifat "sumatif" agar dapat diketahui tingkat keberhasilan murid. Dengan cara mengajar yang biasa guru tidak akan mencapai penguasaan tuntas oleh murid, usaha guru itu harus dibantu dengan kegiatan tambahan yang terutama terdiri atas:
"feed back" atau umoan balik ygterperinci kepada guru atau murid
Sumber dan metode-metode pengajaran tambahan dimana saja diperlukan
Feed back diberikan malalui test-test formatif. Mula-mula bahan-bahan pelajaran dibagikan satuan pelajaran. Suatu satuanpelajaran misalnya meliputi bahan pelajran satu bab atau bahan yang dapat dikuasai dalam waktu satu atau dua minggu. Test formatif itu bersifat diagnotis dan serentak menunjukkan kemajuan dan keberhasilan anak. Selain itu dapat diberikan bantuan tutorial yaitu bantuan pribadi dari seorang guru atau sebaliknya orang lain.
Cara-cara ini adalah:
Menyuruh murid membaca kembali dengan cermat halaman-halaman bagian tertentu yang berkenaan dengan kesalahan murid itu.
Menyuruh murid untuk membaca bagian tertentu dari buku lain yang berbeda cara penyajiannya.
Dengan diterapkannya "mastery learning" justru mengembangkan minat dan sikap positif terhadap pelajaran dan ilmu yang memberi harapan bahwa anak itu kelak akan terus belajar sepanjang umurnya agar dapat bertahan dalam dunia yang serba cepat umurnya, agar dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubah ini dan agar dapat senantiasa mengikuti perkembangan dunia tempat ia hidup.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Belajar tuntas (mastery learning) adalah belajar mengajar yang bertujuan agar bahan ajaran yang dikuasai secara tuntas (suatu upaya belajar dimana siswa dituntut menguasai hampir seluruh bahan ajaran).
Prinsip-prinsip dari belajar tuntas yaitu:
Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian besar bahan yang diajarkan.
Guru menyusun strategi pelajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendaknya dikuasai oleh siswa.
Sejalan dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar satuan-satuan bahan ajar yang kecil yang mendukung sekelompok tujuan khusus tersebut.
Tujuan proses belajar-mengajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh murid, ini disebut "mastery learning" atau belajar tuntas, artinya penguasaan penuh.
Belajar tuntas "mastery learning" justru mengembangkan minat dan sikap positif terhadap pelajaran dan ilmu yang memberi harapan bahwa anak itu kelak akan terus belajar sepanjang umurnya agar dapat bertahan dalam dunia yang serba cepat umurnya, agar dapat bertahan dalam dunia yang selalu berubah ini dan agar dapat senantiasa mengikuti perkembangan dunia tempat ia hidup .
DAFTAR PUSTAKA
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. PT. Remaja Rosdakarya: Jakarta.
Ahmadi, Abu, dkk. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Pustaka Setia
Mansyur. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Ditjen Pembinaan dan Kelembagaan Agama Islam.
Http://andeieirfan.multiply.com/journal/item/5/model_mastery_learning.
Minggu, 14 Desember 2008
LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
(LPJ)
PELATIHAN KADER POSKESTREN
Disusun Oleh:
M. Syahuri
Mambaul Khoirot
Bella
Enny
Wahyu Ir.
PONDOK PESANTREN “AL HIDAYAH”
Termas Baron Nganjuk
2008
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam, yang telah memberikan bermacam-macam nikmat dan inayah kepada kita semua, sehingga kita dapat bermunajah untuk selalu taqorrub kepadaNya dalam keseharian kita. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabiyulloh Muhammad SAW, nabi akhir zaman dengan risalah penyelamat umat. Dan yang kita harapkan syafaat beliau di yaumul mizan kelak.
Kesehatan adalah bagian terpenting dalam hidup. Tanpa kesehatan kita tidak akan bisa berbuat maupun beribadah kepadaNya. Dalam rangka peningkatan kesehatan dalam berbagai elemen masyarakat, pondok pesantren merupakan bagian yang penting, sebab pondok pesantren merupakan komponen yang memberi panutan bagi lingkungan sekitar.
Dalam LPJ ini akan diuraikan kegiatan yang telah dilakukan selama pelatihan di DINKES Nganjuk. Akhirnya semoga LPJ ini bermanfaat untuk kita semua. Amin.
Penyusun
LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
(LPJ)
PELATIHAN KADER POSKESTREN
A. LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan merupakan hal yang penting dalam kehidupan. Karena dengan kesehatan kita dapat melanjutkan segala aktivitas sehari-hari. Dan dengan tubuh yang sehat serta jiwa yang sehat pula kita dapat beribadah kepadaNya. Begitu pentingnya kesehatan bagi kehidupan dan aktivitas, maka kesehatan perlu sekali untuk di jaga, terutama dengan pencegahan (preventif). Karena mencegah lebih baik dan murah daripada mengobati.
Sehubungan dengan pemeliharaan kesehatan pada seluruh elemen masyarakat, pondok pesantren adalah salah satu komunitas dan tempat berkumpulnya berbagai macam elemen masyarakat, maka pondok pesantren merupakan salah satu tempat yang perlu untuk ditindak lanjuti dalam masalah kesehatan. Karena pondok pesantren juga merupakan sebuah wahana pemersatu umat dan panutan untuk lingkungan sekitar.
POSKESTREN, atau Pos Kesehatan Pesantren adalah salah satu wahana untuk terciptanya hidup yang sehat dalam lingkungan pondok pesantren. Pengoptimalan POSKESTREN dalam lingkungan pondok pesantren sangat perlu dilakukan, misalnya: sosialisasi kesehatan, pelatihan kader husada dan lain
sebagainya. Dan perlunya pelatihan kader-kader POSKESTREN yang siap untuk mengoptimalkan fungsi POSKESTREN sebagai sarana pelopor hidup sehat di lingkungan pondok pesantren dan sekitarnya telah dilakukan untuk tujuan tersebut.
B. TUJUAN
Adapun tujuan laporan pertanggungjawaban ini adalah:
1. Sebagai laporan untuk pengasuh
2. Sebagai bahan acuan untuk menindaklanjuti kegiatan ke depan
3. Sebagai bahan pertimbangan kegiatan POSKESTREN ke depan
4. Sebagai bahan MMPP (musyawarah masyarakat pondok pesantren)
C. WAKTU dan TEMPAT PELAKSANAAN
Waktu pelaksanaan pelatihan kader POSKESTREN adalah hari selasa sampai dengan kamis, pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai (waktu kondisional). Kegiatan tersebut bertempat di Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk.
D. PESERTA
Adapun peserta pelatihan kader POSKESTREN adalah dari perwakilan lima pondok pesantren yang ditunjuk, dan memiliki POSKESTREN di kabupaten Nganjuk. Kelima pondok pesantren tersebut adalah:
1. Pondok Pesantren Al Hidayah, Termas Baron
2. Pondok Pesantren Al Khoiriyah, Katerban Baron
3. Pondok Pesantren Miftahul Ula Nglawak, Kertosono
4. Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Mojosari Loceret
5. Pondok Pesantren Isyhar, Prambon
E. KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN
Kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan tentang kesehatan, terutama optimalisasi POSKESTREN dalam lingkungan pondok pesantren. Pelatihan dibagi menjadi dua bagian yakni:
1. Pelatihan Teoritis, meliputi penyampaian materi-materi tentang kesehatan. Adapun jenis materi yang disampaikan terlampir.
2. Pelatihan praktek, yaitu praktek langsung terhadap penanganan P3K maupun P3P yang terjadi di di lingkungan pondok pesantren.
F. RENCANA TINDAK LANJUT
Adapun rencana tindak lanjut yang akan dilakukan setelah pelatihan kader POSKESTREN ini adalah:
1. Sosialisasi kesehatan pada warga pondok pesantren
2. Pelatihan kader tingkat lanjut
3. Survey mawas diri
4. MMPP (Musyawarah Masyarakat Pondok Pesantren)
5. Evaluasi
Demikian Laporan ini dibuat, dan digunakan untuk keperluan sebgaimana mestinya.
Lampiran I
STRATEGI PROMOSI KESEHATAN
Strategi promosi kesehatan pada POSKESTREN adalah:
1. Advokasi, minta izin pada pengasuh pondok pesantren setempat
2. Bina suasana, menciptakan suasana yang sehat dan POSKESTREN sebagai basis kesehatan di pondok pesantren.
3. Kemitraan, mencari koneksi dengan LSM atau lembaga lain di luar pondok pesantren.
Sedangkan target POSKESTREN adalah:
1. Prefentif, yakni upaya pencegahan penyakit, atau pemeliharan kesehatan
2. Promotif, yakni upaya promosi kesehatan pada warga pondok pesantren atau masyarakat sekitar pondok pesantren.
3. Rehabilitasi, yakni proses pengadaan sarana kesehatan
4. Kuratif, yakni proses pengobatan terhadap kejadian tidak sehat.
Lampiran II
PERTOLONGAN PERTAMA PADA PENYAKIT
(P3P)
1. Demam
· Kompres dengan air dingin atau hangat
· Bagian yang dikompres adalah dahi, ketiak, dada atau punggung
· Perbanyak minum air putih
· Jangan diberi selimut
· Berikan parasetamol
· Bila samapai 3-6 jam tidak ada perubahan, segera bawa ke PUSKESMAS terdekat.
2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
o Istirahatkan dengan cukup
o Makan makanan sehat
o Minum vitamin dan obat penurun panas
o Setelah 2-3 hari tidak ada perubahan segera bawa ke PUSKESMAS terdekat.
3. Diare
ü Beri oralit atau larutan gula garam (LGG), dengan takaran air 200 ml, gula satu sendok dan garam ¼ sendok secara terus-menerus
ü Jika tidak ada perubahan segera bawa ke PUSKESMAS
4. Penyakit Kulit
o Jangan diobati sendiri-sendiri
o Jangan diberi obat-obatan kimia
o Bawa ke PUSKESMAS.
Lampiran III
PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN
(P3K)
1. Luka Bakar
· Untuk luka bakar ringan (tidak lebih dari kulit ari), celupkan atau aliri dengan air kurang lebih 10 menit sampai tidak terasa.
· Bersihkan kotoran-kotoran sedikit demi sedikit
· Balut dengan kain bersih
· Jangan diberi apapun
· Untuk luka bakar berat, langsung dirujuk ke RS terdekat
2. Keracunan
o Bila pasien dalam kondisi sadar, usahakan untuk muntah dengan cara diberi air minum yang banyak, atau sesuatu agar ia muntah
o Bila pasien dalam kondisi tidak sadar, baringkan di tempat yang luas dengan ventilasi yang baik, lalu dirujuk ke PUSKESMAS terdekat.
3. Gigitan Hewan
a. Gigitan anjing
· Bersihkan dengan air bersih dan sabun
· Berikan antiseptik atau yodium
· Balut dengan kain, tapi jangan terlalu kencang
· Segera bawa ke PUSKESMAS
b. Gigitan ular
· Cuci dengan air bersih dan sabun
· Berikan antiseptik atau yodium
· Balut dengan kain, tapi jangan terlalu kencang pada bagian atas yang terkena gigitan, jangan ikat terlalu menekan karena akan mempengaruhi peredaran darah
· Bawa ke RS terdekat
c. Gigitan tawon
· Berikan es pada bagian yang tergigit
· Bila tidak ada perubahan segera bawa ke RS terdekat
4. Patah Tulang
ü Berikan pertolongan dengan meluruskan tulang yang patah
ü Berikan bidai atau penyangga lainnya agar dua sendi atas dan bawah yang patah tidak bergerak
ü Segera rujuk ke RS terdekat
5. Tersedak
o Untuk tersedak tidak total (masih bisa bernafas) diusahakan untuk dimuntahkan dengan cara dipukul pada bagian punggung pasien
o Untuk tersedak total dan pasien sadar, maka pasien diberdirikan, lalu agak dibungkukkan, dan ditarik ke belakang dengan sudut 45 derajat
o Untuk pasien tidak sadar, pasien ditidurkan dengan posisi miring, lalu ditarik dari arah belakang pasien dengan sudut 45 derajat
o Segera bawa ke RS terdekat
Lampiran IV
NARKOBA
(Narkotika dan Obat-obatan Berbahaya)
NARKOBA adalah zat yang mempengaruhi psikologi, pola fikir, ketergantungan fisik dan tingkah laku. Jenis NARKOBA terbagi menjadi tiga kelompok, yakni:
a. Golongan I : tidak digunakan untuk pengobatan, misalnya: heroin, ganja dan kokain
b. Golongan II : digunakan untuk pengobatan dalam kondisi yang sangat terpaksa, misalnya: operasi, yang termasuk golongan ini adalah morfin dan petisin
c. Golongan III : dapat digunakan untuk pengobatan, misalnya codein
Psikotropika adalah zat yang bersifat stimulan (merangsang) saraf pusat. Psikotropika dibagi dalam 4 golongan:
a. Golongan I : ekstasi
b. Golongan II : amphetamin, untuk menekan nafsu makan
c. Golongan III : phenobabita, mengurangi rasa cemas
d. Golongan IV : diazepan
Sifat-sifat NARKOBA adalah:
1. Depresan (merangsang saraf pusat)
2. Stimulan (merangsang saraf motorik)
3. Halusinogen (menimbulkan kesan semu)
Sabtu, 06 Desember 2008
Psikologi Umum: Berpikir
Mengenai soal berpikir ini terdapat beberapa pendapat, diantaranya ada yang menganggap sebagai suatu proses asosiasi saja; pandangan semacam ini dikemukakan oleh kaum Asosiasionist. Sedangkan Kaum Fungsionalist memandang berpikir sebagai suatu proses penguatan hubungan antara stimulus dan respons. Diantaranya ada yang mengemukakan bahwa berpikir merupakan suatu kegiatan psikis untuk mencari hubungan antara dua objek atau lebih.
Secara sederhana, berpikir adalah memproses informasi secara mental atau secara kognitif. Secara lebih formal, berpikir adalah penyusunan ulang atau manipulasi kognitif baik informasi dari lingkungan maupun simbol-simbol yang disimpan dalam long term memory. Jadi, berpikir adalah sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa atau item (Khodijah, 2006:117). Sedangkan menurut Drever (dalam Walgito, 1997 dikutip Khodijah, 2006:117) berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah. Solso (1998 dalam Khodijah, 2006:117) berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah. Dari pengertian tersebut tampak bahwa ada tiga pandangan dasar tentang berpikir, yaitu (1) berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku, (2) berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif, dan (3) berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi.
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52 dalam http://www.andragogi.com) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam diri seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis
Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang relatif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ini akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.
Tujuan berpikir adalah memecahkan permasalahan tersebut. Karena itu sering dikemukakan bahwa berpikir itu adalah merupakan aktifitas psikis yang intentional, berpikir tentang sesuatu. Di dalam pemecahan masalah tersebut, orang menghubungkan satu hal dengan hal yang lain hingga dapat mendapatkan pemecahan masalah.
B. Jenis, Tipe, dan Pola Berpikir
Ada berbagai jenis dan tipe berpikir. Morgan dkk. (1986, dalam Khodijah, 2006: 118) membagi dua jenis berpikir, yaitu berpikir autistik dan berpikir langsung. Berpikir autistik (autistic thinking) yaitu proses berpikir yang sangat pribadi menggunakan simbol-simbol dengan makna yang sangat pribadi, contohnya mimpi. Berpikir langsung (directed thinking) yaitu berpikir untuk memecahkan masalah.
Menurut Kartono (1996, dalam Khodijah, 2006:118) ada enam pola berpikir, yaitu:
Berpikir konkrit, yaitu berpikir dalam dimensi ruang, waktu, dan tempat tertentu
Berpikir abstrak, yaitu berpikir dalam ketidakberhinggaan, sebab bisa dibesarkan atau disempurnakan keluasannya.
Berpikir klasifikatoris, yaitu berpikir menganai klasifikasi atau pengaturan menurut kelas-kelas tingkat tertentu.
Berpikir analogis, yatiu berpikir untuk mencari hubungan antarperistiwa atas dasar kemiripannya.
Berpikir ilmiah, yaitu berpikir dalam hubungan yang luas dengan pengertian yang lebih komplek disertai pembuktian-pembuktian.
Berpikir pendek, yaitu lawan berpikir ilmiah yang terjadi secara lebih cepat, lebih dangkal dan seringkali tidak logis.
Sedangkan menurut De Bono (1989 dalam Khodijah, 2006:119) mengemukakan dua tipe berpikir, sebagai berikut.
Berpikir vertikal (berpikir konvergen) yaitu tipe berpikir tradisional dan generatif yang bersifat logis dan matematis dengan mengumpulkan dan menggunakan hanya informasi yang relevan.
Berpikir lateral (berpikir divergen) yaitu tipe berpikir selektif dan kreatif yang menggunakan informasi bukan hanya untuk kepentingan berpikir tetapi juga untuk hasil dan dapat menggunakan informasi yang tidak relevamn atau boleh salah dalam beberapa tahapan untuk mencapai pemecahan yang tepat.
C. Proses Berpikir
Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu :
1. Pembentukan Pengertian
Pengertian, atau lebih tepatnya disebut pengertian logis di bentuk melalui tiga tingkatan, sebagai berikut:
a. Menganalisis ciri-ciri dari sejumalah obyek yang sejenis. Obyek tersebut kita perhatikan unsur – unsurnya satu demi satu. Misalnya maupun membentuk pengertian manusia. Kita ambil manusia dari berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-ciri misalnya :
Manusia Indonesia, ciri – cirinya :
Mahluk hidup, Berbudi , Berkulit sawo mateng, Berambut hitam, Dan sebagainya
Manusia Eropa, ciri – cirinya :
Mahluk hidup, Berbudi, Berkulit Putih, Berambut pirang atau putih, Bermata biru terbuka, Dan sebagainya
Manusia Negro, ciri – cirinya:
Mahluk hidup, Berbudi , Berkulit htam , Berambut hitam kriting , Bermata hitam melotot , Dan sebagainya
Manusia Cina, ciri – cirinya:
Mahluk Hidup, Berbudi, Berkulit kuning, Berambut hitam lurus, Bermata hitam sipit , Dan sebagainya
Dan manusia yang lain – lainnya lagi.
b. Membanding – bandingkan ciri tersebut untuk diketemukan ciri – ciri mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan mana yang tidak selalu ada mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki.
c. Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang tidak hakiki, menangkap cirri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas ciri – ciri yang hakiki itu ialah: Makhluk hidup yang berbudi.
2. Pembentukan Pendapat
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari pokok kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat.
Selanjutnya pendapat dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
a. Pendapat Afirmatif atau positif, yaitu pendapat yang menyatakan keadaan sesuatu,
Misalnya Sitotok itu pandai, Si Ani Rajin dan sebagainya.
b. Pendapat Negatif, Yaitu Pendapat yang menidakkan, yang secara tegas menerangkan
tentang tidak adanya seuatu sifat pada sesuatu hal : Misalnya Sitotok itu Bodoh Si Ani
Malas dan sebagainya.
c. Pendapat Modalitas atau kebarangkalian, Yaitu Pendapat yang menerangkan
kebarangkalian, kemungkinan – kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal ; misalnya
hari ini mungkin hujan, Si Ali Mungkin tidak Datang. Dan sebagainya.
3. Penarikan Kesimpulan atau Pembentukan Keputusan
Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada.
Ada 3 macam keputusan, Yaitu
a. Keputusan induktif yaitu keputusan yang diambil dari pendapat – pendapat khusus menuju ke satu pendapat umum. Misalnya :
Tembaga di panaskan akan memuai
Perak di panaskan akan memuai
Besi di panaskan akan memuai
Kuiningan di panaskan akan memuai
Jadi (kesimpulan). Bahwa semua logam kalau dipanaskan akan memuai (Umum)
b. Keputusan Deduktif
Keputusan deduktif ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus , Jadi berlawanan
dengan keputusan induktif. Misalnya : Semua logam kalau dipanaskan memuai
(umum), tembaga adalah logam. Jadi (kesimpulan) : tembaga kalau dipanaskan memuai
Contoh lain :
Semua manusia terkena nasib mati,
Si Karto adalah manusia
Jadi pada suatu hari si Karto akan mati.
c. Keputusan Analogis
Keputusan Analogis adalah Keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan
atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada. Misalnya : Totok
anak pandai, naik kelas (Khusus). Jadi (kesimpulan) Si Nunung anak yang pandai itu,
tentu naik kelas.
Rabu, 26 November 2008
Langkah-langkah Nglupaen Naya.....
LANGKAH-LANGKAH MELUPAKAN MANTAN KEKASIH
1.Menangis Semalam
Anda boleh menangis .Kesedian dan sakit hati memang harus di ungkapkan secara bebasmeskipun menyakitkan.Anda boleh menangis sampai mata bengkak dan nggak mengeluarkan airmata lagi,Tapi jangan lama-lama.Yang penting sudah puas semalaman dan setelah itu anda ndak pernah nangis lagi
2.Berpikir Positip
Memang tidak mudah untuk bersyukur di antara kecambuk sakit hati yang kunjung sembuh.Coba anda berpikir klu hubungan itu masih terus berlanjut bahkan janur kungin sudah melengkung tapi kemudian tetep putus di tegah jalan!!Akan lebih parah keadaannya,yang penting kehormatan belum terengggut maka lebih sedikit waktu yang dibutuhkan untuk melupakan mantan
3.Have Fun
Lupakan kesedian dengan cara menyalurkan hobi anda.Pokoknya yang anda suka,lebih ramai dengan teman-teman agar makin seru
4.Buang Barang_Barang Pemberiannya
Semua hadiah pemberiannya buang aja!!dengan membuang pemberiannya anda tidak akan ingat dengannya.Klu barang-barang itu sayang dibuang berikan aja pada orang lain,itung-itung sambil menghilangkan jejak sambil amal.anda bisa dapat pahala.
5.Cari Kekasih Baru
Cara ini cara termudah melupakan mantan,asal anda tak lantas jatuh hati kemudian patah hati lagidalam waktu dekat.Niscaya bau mantan akan segera sirna.Ingat pastikan kekasih baru anda itu tidak seperti mantan anda
6.Refreshing Ke Tempat Baru
Supaya mudah melupakan kekasih anda ajak teman -teman anda untuk berlibur ke tempat baru.Jadi sambil melupakan kenangan sang manta anda tetep bisa bersenang-senang.Biar hati sakit banget,tapi siapa tahu di tempat baru anda bisa mendapatkan penggantinya.
7.Permak Penampilan
Ubah penampilan anda menjadi baru biar membuat hati senang.Siapa tahu dengan penampilan baru ada yang tertarik dengan anda.
8.Introspeksi Diri
Bila ke tujuh diatas untuk melupakan sementara maka ada dua cara yang terahkir untuk memusnakan bayangan mantan kekasih.Ketika sebuah hubungan berakhir sebaiknya kita introspeksi diri.Apa saja sifat yang positif atau negati agar kelak bila telah menemukan tambatan hati baru sifat dan karakter kita bisa lebih baik dari sebelumnya.
9.Ingat Selalu keburukan Dia
Mengingat keburukan mantan bukan berati kita menjelek-jelekan mantan ke hadapan teman.Ini hanya untuk hati dan pikiran anda sendiri,sebab klu kita mengingat kebaikan dia makan kita akan mengingatnya dan akhirnya kita akan menyesali dan merutuki diri saja.Memang agak susah untuk memulai tapi akhirnya akan berguna dan bagus untuk penyembuhan luka hati
10.Berdoa
Dengan banyak berdoa pasti kita akan segera bisa melupakan mantan kekasih
Senin, 24 November 2008
SURAH MAKKIYAH DAN MADANIYYAH
SURAH MAKKIYAH DAN MADANIYYAH
1. Pengertian Makki dan madani
Ulama’ masih ikhtilaf/berbeda pendapat di dalam mendefinisikan Makki, namun dari beberapa definisi yang mereka kemukakan terdapat definisi yang masyhur tentang makki adalah ayat maupun surat sebelum Nabi Hijrah ke Madinah. Sedangkan Madani adalah surat atau ayat yang di turunkan setelah Nabi hijrah, baik ketika itu turun di Mekkah maupun Madinah, dalam tahun pembukaan atau haji wada’, di rumah maupun di perjalanan.
2. Perbedaan Makki dan Madani
Adapun untuk membedakan kedua nya, Ulama’ mempunyai cara berfikir/paradigma yang masing-masing mempunyai landasan ;
a). Dari segi waktu turunnya
Kalau Makki di tutunkan sebelum hijrah meskipun tidak di Mekkah, sedangkan Madani di turunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di Madinah. Adapun yang di turunkan sesudah hijrah, meskipun di Mekkah atau Arofah adalah Madani, seperti yang di turunkan ketika penaklukan kota Mekkah. Contoh pada Qs. An-nisa, ayat 8 :
Artinya : “ Sesungguh nya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Dan sesungguhnya Allah maha mendengar dan melihat”. ( Qs. An-nisa’, ayat 58)
b). dari segi tempat turunnya
Kalau makki di turunkan di Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah dan Hudaibiyyah. Sedangkan madani tutunnya di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Quba, dan Sil. Pendapat tersebut berindikasi pada tidak adanya pembagian secara kongkrit dan mendua (Ambigu) sebab yang turun dalam perjalanan di tabuk atau Baitul maqdis tidak termasuk di dalam salah satunya, sehingga ia tidak di katakan makki dan madani, dan juga berindikasi pada bahasa yang di turunkan di Mekkah sesudah hijrah yang di sebut dengan Makki.
c). Dari segi sasarannya
Kalau makki semuanya di tujukan kepada penduduk Mekkah ketika itu, sedangkan madani di tujukan kepada penduduk Madinah. Berdasarkan pendapat ini para pendukungnya menyatakan bahwa ayat al-qur’an yang mengandung seruan Ya ayyuhannas adalah Makki, sedangkan ayat yang mengandung seruan Ya ayyuhalladji na’aamanu adalah Madani.
3. Tanda-tanda surat maki dan madani
Bahwasannya ulama’ menyebut tanda surat Makki dan Madani sebagai berikut :
a). Tanda-tanda surat Maki
i. Setiap surat yang di dalamnya terdapat Yaa ayyuhannas, dan di dalamnya tidak mengandung Yaa ayyuhalladjiina amanu, maka berarti Makki. Dan ulama’ ikhtilaf dalam surat akhir Al-hajj, namun yang demikian mayoritas Ulama’ berpendapat ayat tersebut Makki.
ii. Setiap surat yang di dalamnya mengandung lafadz Kalla berarti makki, lafadz ini hanya terdapat separuh terakhir dari al-qur’an dan di sebutkan sebanyak 33 kali dalam 15 surat, dalam kitab Ulumul Qur’an di sebutkan 33 kali dalam 25 surat.
iii. Setiap surat yang mengandung cerita Nabi Adam dan iblis adalah Makki, kecuali surat al-baqarah.
iv. Setiap surat yang mengandung kisah umat terdahulu adalah Makki.
v. Di dalamnya terdapat ayat sajadah, dalam al-qur’an ada 15 ayat.
vi. Di dalamnya terdapat huruf tahajji
Dari segi ciri tema dan gaya bahasa seperti teringkas sebagai berikut :
i. Doktrin tentang tauhid dan hanya beribadah kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, hari kebangkitan, pembalasan, kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksanya, surga dan ni’matnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan buki-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyyah.
ii. Peletakkan dasar-dasar umum untuk perundang-undangan dan ahlaq mulia yang menjadi basic terbentuknya masyarakat, dan penyikapan dosa orang-orang musyrik dalam penumpahan drah, memakan harta anak yatim secara dzalim, penguburan hidup-hidup bayi prempuan dan tradisi buruk lainnya.
iii. Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umatnya terdahalu sebagai pelajaran bagi mereka, sehingga mengetahui nasib seseorang yang mendustakan sebelum mereka dan sebagai hiburan buat Rasulullah, sehingga baliau tabah dalam menghadapi segala gangguan dari mereka dan yakin akan menang.
iv. Suku katanya pendek, di sertai dengan kata-kata yang mengesankan pernyataannya singkat, di telinga terasa menembus dan terdengar sanagat keras, menggetarkan hati dan ma’nanya pun meyakinkan dengan di perkuat lafadz-lafadz sumpah seperti surat-surat yang pendek-pendek.
b). Tanda-tanda Madani
i. Setiap surat yang berisi kewajiban atau Had adalah Madani
ii. Setiap surat yang di dalamnya di sebutkan orang-orang munafik adalah Madani, kecuali surat al-ankabut
iii. Setiap surat yang di dalamnya berdialog dengan ahli kitab adalah Madani
Sedangkan dari segi dan ciri khas tema dan gaya bahasa sebagai berikut :
i. Menjelaskan ibadah, mu’amalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun di waktu perang, kaidah hukum maupun permasalahan perundang-undangan.
ii. seruan dari kalangan kitab ahli yahudi dan nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam
iii. menyingkap prilaku orang munafik, menganalisis kejiwaannya, membuka kedok nya, dan mejelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama
4. Faidah mengetahui Maki dan Madani
Dengan mengetahui maki dan madani, akan membawa hikmah dan faidah diantaranya :
i. Perbedaan nasekh dan mansukh
ii. Merupakan media dan membantu untuk menafsirkan al-qur’an
i. Pengetahuan terhadap sejarah pembentukan hukum (Tarikh tasyri’) dan fase-fase pembenahan (Tajridah)
ii. Pemantapan terhadap gaya bahasa al-qur’an dalam mengajak kepada jalan Allah SWT.
iii. Mengetengahkan sejarah nabi dengan cara mengikuti jejak beliau ketika di Mekkah dan Madinah, serta sikap-sikap beliau dalam berda’wah, kodisi beliau yang merupakan cerminan para da’I dengan metode beliauyang sangat bijak.
5. Kesimpulan
Di lihat dari setiap sub nya bahwa, dari segi kebenarannya al-qur’an merupakan sumber dari berbagai sumber, dengan kata lain al-qur’an menempati posisi paling awal dari tertib sumber hukum dalam berhujjah, adapun sumber yang lainnya hanya sebatas pelengkap dan cabang dari al-qur’an, karena pada dasarnya sumber-sumber tersebut akan kembali kepada al-qur’an
Dan bahwasanya mengetahui ilmu makki dan madani merupakan sesuatu yang sangat pentig guna menjadi landasan peneliti untuk mengetahui metode da’wah, macam-macam seruan dan pentahapan dalam menetapkan hukum, perintah dll.
Bahan Bacaan
- Ulumul Qur’an, studi kompleksitas al-qur’an Yogyakarta, Titian Ilahi Press.1999
- Djalal. H. Abdul. Prof. dr Ulumul qur’an Surabaya, Dunia ilmu 2000
- Al qatthan, manna Khalil Studi Ilmu-ilmu al-qur’an. Jakarta, Litera Antar Nusa, 2000.